Kulit cerah, bahasa Inggris, dan produk impor — tiga obsesi lama yang kini hidup di feed kita. Ini bukan soal selera. Ini warisan penjajahan.


KOSONGSATU.ID — Ketik kata “cantik” di kolom pencarian e-commerce mana pun, dan hasilnya hampir seragam: kata “whitening” mendominasi. 

Ini bukan kebetulan. 

Scarlett Whitening — merek lokal yang identitasnya dibangun di atas kata “memutihkan” — pernah menempati urutan pertama skincare terlaris di Indonesia dengan penjualan menembus Rp40,9 miliar hanya dalam satu kuartal. Di negara dengan mayoritas penduduk berkulit sawo matang, standar kecantikan justru bergerak ke arah sebaliknya.

Ini bukan soal selera estetika semata.

Luka yang Beralih Wajah

Pada 6 April 1977, wartawan dan budayawan Mochtar Lubis berdiri di podium Taman Ismail Marzuki Jakarta dan membacakan ceramah yang kemudian menggemparkan Indonesia. Ia menyebut manusia Indonesia — secara stereotipikal — sebagai munafik, tidak mau bertanggung jawab, berperilaku feodal, dan berkarakter lemah. 

Ceramah itu dibukukan, dicetak berulang kali, dan masih relevan hampir setengah abad kemudian.

Yang jarang dipertanyakan adalah: mengapa karakter-karakter itu terbentuk?

Jawabannya terletak pada konstruksi sosial yang dibangun selama ratusan tahun penjajahan. Sistem sosial yang sebelumnya relatif egaliter dalam berbagai komunitas tradisional berubah menjadi struktur hierarkis yang kaku, di mana Belanda dan segelintir elite pribumi menempati posisi dominan, sementara rakyat pribumi lainnya berada di lapisan bawah. 

Selama ratusan tahun, otak kolektif bangsa ini belajar satu pelajaran yang sama: berada di bawah adalah selamat.

Dari kondisi itulah lahir apa yang disebut sebagai mentalitas inlander — bukan kelemahan bawaan, melainkan produk dari sistem yang secara aktif memproduksi rasa rendah diri. 

Dari situlah mulai muncul bibit-bibit inferioritas, muncul sikap rendah diri, kehilangan rasa percaya diri sebagai suatu bangsa yang bermartabat. Sikap tersebut kemudian merasuk dalam diri sebagian besar bangsa Indonesia sebagai bangsa jajahan.