Penjajahan berakhir pada 1945. Mentalitasnya tidak.

Hierarki Lama, Platform Baru

Hari ini, infrastruktur penjajahan sudah tidak ada. Tapi mekanisme yang memproduksi inferioritas itu berpindah platform — dari sistem hukum diskriminatif ke algoritma media sosial.

Standar kecantikan Indonesia diadaptasi dari pandangan era penjajahan yang termaktub dalam iklan kosmetik. Yang berbeda hanyalah mediumnya: dulu lewat poster toko obat di Batavia, kini lewat paid promotion di Instagram dan TikTok. 

Wajah yang muncul di iklan produk perawatan kulit terlaris Indonesia masih didominasi oleh standar yang tidak mencerminkan wajah mayoritas pembelinya.

Fenomena yang sama berlaku di ruang digital yang lebih luas. Konten kreator Indonesia kerap mendapat lebih banyak kepercayaan ketika mengutip sumber asing, menyisipkan istilah Inggris, atau memiliki pengikut dari luar negeri — bukan karena kontennya lebih bermutu, tapi karena standar otoritas yang kita gunakan masih mewarisi hierarki lama. 

Koentjaraningrat, sebelum wafat pada 1999, mengingatkan bahwa kelemahan mentalitas yang menghambat bangsa Indonesia antara lain adalah tidak percaya diri sendiri dan mentalitas yang meremehkan mutu. Peringatan yang disampaikan dari kampus itu kini hidup di kolom komentar.

Merdeka dari Apa?

Proklamasi 1945 memerdekakan wilayah dan kedaulatan politik. Tapi, tidak ada program nasional yang serius untuk membebaskan cara pandang dari warisan penjajahan. 

Bahkan, dalam kapasitas sebagai pejabat negara sekalipun, inferioritas semacam itu masih kerap ditemukan. Misalnya, dalam kecenderungan lebih memilih tenaga asing yang dinilai lebih “jago” meski ada tenaga lokal yang tak kalah mumpuni.

Feodalisme domestik kemudian mengambil alih fungsi yang sama. Struktur hierarkis yang dibangun penjajah tidak runtuh setelah kemerdekaan — ia diwarisi oleh elite baru. Pola lama berlanjut: yang di atas tidak perlu membuktikan diri, yang di bawah tidak perlu percaya pada diri sendiri.

Algoritma global memperbarui luka itu setiap hari. Feed yang dikonsumsi jutaan orang Indonesia sebagian besar memproduksi standar kecantikan, gaya hidup, dan ukuran keberhasilan yang tidak bersumber dari referensi budaya sendiri.

Pertanyaan yang Lebih Penting

Mochtar Lubis tidak bermaksud menghakimi. Di akhir ceramahnya, ia menyerukan satu hal sederhana: pendidikan yang mampu membangun manusia yang percaya pada dirinya sendiri, dan pemimpin yang mau menghapus sekat antara yang berkuasa dan yang dikuasai.