Di tengah banjir notifikasi dan algoritma yang tak pernah tidur, sebuah teks tua dari abad ke-12 menawarkan sesuatu yang terasa asing di era ini: keheningan, kesadaran, dan kendali diri.
KOSONGSATU.ID – Sulit membayangkan bahwa seorang raja dari tanah Kediri, yang memerintah hampir sembilan abad silam, pernah merumuskan sesuatu yang hari ini terasa seperti resep terapi.
Namun, di sinilah paradoks Jangka Jayabaya bekerja — ia bukan sekadar ramalan, melainkan semacam kompas moral yang makin relevan justru ketika dunia makin kencang berputar.
Di era kecerdasan buatan (AI) dan media sosial yang tak henti menghasilkan stimulus, warisan intelektual Prabu Jayabaya (1135–1159 M) mendapat pembaca baru: manusia modern yang kelelahan, terdisoriensasi, dan terperangkap dalam apa yang para peneliti psikologi menyebut digital overwhelm.
Zaman Edan di Layar yang Tak Pernah Padam
Ada sebuah bait yang kerap dikutip ketika orang berbicara tentang kegaduhan zaman. Meski para sarjana memperdebatkan garis batas antara Jangka Jayabaya dan Serat Kalatidha karya pujangga Ranggawarsita (1862), satu bait terus bertahan dalam ingatan kolektif: “Amenangi zaman edan, ewuh aya ing pambudi. Melu edan nora tahan, yen tan melu anglakoni, boya kaduman melik…” — mengalami zaman gila, serba sulit dalam bertindak; ikut gila tidak tahan, tapi tidak ikut pun tak kebagian.
Bait itu terasa seperti ditulis kemarin. Siapa pun yang pernah menghabiskan dua jam menggulir linimasa tanpa tujuan, membandingkan hidupnya dengan orang lain di Instagram, atau terjebak dalam spiral berita yang makin absurd, akan mengenali rasanya. Itulah Zaman Edan versi digital: bukan kegilaan yang kasat mata, melainkan disorientasi yang halus dan menular.
Dalam ruang siber, nilai-nilai terjungkir balik persis seperti yang digambarkan dalam tradisi sastra Jawa itu. Hoaks beredar lebih cepat dari fakta. Konten buatan AI mengaburkan batas antara nyata dan rekaan. Validasi sosial diukur dari angka — jumlah like, jumlah follower — bukan dari kedalaman relasi.
Kunci yang Tersimpan dalam Dua Kata
Di tengah deskripsi kekalutan itu, teks-teks dalam tradisi Jayabaya menyimpan satu kalimat yang terasa seperti obat penawar: “Beja-begjane kang lali, isih beja kang eling lan waspada.” Seberuntung-beruntungnya orang yang lupa, masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada.
Eling dan waspada — dua kata Jawa yang bisa diterjemahkan sebagai kesadaran diri dan kewaspadaan kritis. Dalam konteks hari ini, keduanya berbunyi seperti panduan digital mindfulness: jeda sebelum berbagi, periksa sebelum percaya, sadari sebelum bereaksi. Bukan kebetulan bahwa praktik-praktik meditasi dan mindfulness yang kini populer di Barat memiliki inti yang serupa dengan apa yang sudah lama dirumuskan dalam tradisi kebatinan Nusantara.
Laku Batin sebagai Terapi Kontemporer
Tradisi Jayabaya mengenal konsep laku batin — perjalanan ke dalam diri sebagai cara menghadapi gejolak di luar. Ada tiga ajaran yang terasa sangat relevan untuk masyarakat yang bergulat dengan adiksi digital.
Pertama, Prawira ing Batin — keteguhan batin dalam menghadapi godaan. Di era dopamin instan dari notifikasi yang tak henti, kekuatan sejati bukan menaklukkan algoritma, melainkan menaklukkan dorongan untuk terus-menerus memeriksa layar.
Kedua, Mratapa — menyepi, atau dalam bahasa masa kini: detoks digital. Bukan pelarian, melainkan pemulihan. Momen ketika frekuensi jiwa manusia tidak tersinkronisasi sepenuhnya dengan mesin, dan pikiran mendapat ruang untuk bernapas.
Ketiga, Andhap Asor — kesahajaan yang melawan budaya pamer. Di tengah kompetisi status yang dimainkan di media sosial setiap hari, nilai kerendahhatian ini terasa subversif dan menyehatkan sekaligus.
Manusia di Hadapan Mesin yang Tanpa Jiwa
Beberapa penafsir kontemporer membaca sejumlah bait Jangka Jayabaya sebagai intuisi tentang teknologi masa depan — tentang kecerdasan yang lahir dari benda mati, tentang kekuatan tak bertubuh yang mendikte perilaku manusia. Terlepas dari perdebatan akademis soal autentisitas penafsiran semacam itu, metaforanya tepat sasaran: algoritma memang tidak punya raga, tapi ia mampu membentuk emosi, opini, bahkan pilihan politik jutaan orang.
Jika manusia kehilangan kesadaran diri di hadapan kekuatan semacam itu, risiko yang dihadapi bukan sekadar kecanduan — melainkan pengosongan kemanusiaan secara perlahan. Empati terkikis. Pikiran menjadi otomatis. Manusia bergerak mengikuti arus yang dirancang oleh kode, bukan oleh nilai.
Di sinilah Jayabaya — atau lebih tepat, tradisi panjang kebijaksanaan Jawa yang mengalir melalui namanya — menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh teknologi secanggih apa pun: arah pulang ke dalam diri sendiri. Bukan untuk lari dari zaman, melainkan untuk menghadapinya dengan tetap utuh.
Eling lan waspada bukan nostalgia. Ia adalah benteng. ***
Daftar Rujukan:
- Anyasari, R. (2020). Filsafat Jawa: Menggali Butir-Butir Kebijaksanaan Lokal. Yogyakarta: Araska.
- Darmosoegito, K. (1991). Memahami Ramalan Jayabaya dalam Konteks Sejarah. Jakarta: Balai Pustaka.
- Lanin, I., & Susanto, H. (2023). Etika Digital dan Transformasi Budaya di Era Algoritma. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Simuh. (2019). Sufisme Jawa: Relasi Islam-Jawa dalam Serat Centhini dan Jangka Jayabaya. Jakarta: Kompas.
- Yuwono, S. (2022). Digital Mindfulness: Strategi Menghadapi Adiksi Media Sosial melalui Pendekatan Spiritual.Jurnal Psikologi Nusantara, 14(2), 112-125.






0 Komentar
Min, ekonomi hari ini hancur akibat E-commerce. Baca artikel penting ini : “Perlunya Penerapan 3 Aturan Pada E-commerce” https://bit.ly/42m5Pxf