Sebelum ada algoritma, Ki Ageng Suryomentaram sudah membedah nafsu yang hari ini kita kenal sebagai FOMO dan flexing.

KOSONGSATU.ID – Setiap kali kita membuka layar ponsel, kita sedang melayani sesuatu yang tidak pernah kita pilih secara sadar: ego. Seseorang memamerkan mobilnya, yang lain panik karena merasa tertinggal tren. Di balik semua itu bukan sekadar masalah teknologi, melainkan anatomi lama nafsu manusia yang kini menemukan panggung barunya.

Ironisnya, ada seorang pangeran dari Keraton Yogyakarta yang sudah lebih dulu membedah ini—jauh sebelum Instagram lahir, bahkan sebelum televisi masuk ke desa-desa Jawa.

Pangeran yang Menanggalkan Mahkota demi Memahami Manusia

Ki Ageng Suryomentaram lahir pada 20 Mei 1892 sebagai putra ke-55 Sultan Hamengku Buwono VII. Di usia 18 tahun ia dinobatkan sebagai pangeran, tapi justru saat itulah kegelisahannya memuncak. Kemewahan keraton tidak memberi jawaban atas pertanyaan paling mendasar tentang kebahagiaan.

Ia lalu memilih jalan yang tak lazim bagi seorang bangsawan: menanggalkan gelar, menjadi petani di Bringin, Salatiga, dan bergumul dengan pertanyaan tentang jiwa selama puluhan tahun. Dari perenungan itu lahirlah Kawruh Jiwa—sebuah sistem pengetahuan jiwa yang kini dikaji serius oleh akademisi psikologi di Indonesia.

Kramadangsa: Profil Media Sosialmu Bukan Kamu

Konsep paling relevan dari ajaran KAS untuk memahami media sosial adalah Kramadangsa—lapisan “rasa keakuan” yang terbentuk dari akumulasi rekaman pengalaman sejak kecil. Kramadangsa bukan diri yang sejati, melainkan konstruksi sosial yang terus-menerus mencari pengakuan.

Dalam konteks hari ini, profil media sosial kita adalah manifestasi Kramadangsa yang paling telanjang. Ketika kita cemas karena unggahan sepi likes, atau euforia karena konten viral, yang bereaksi bukan diri yang sadar—melainkan lapisan ego yang haus validasi eksternal. Semakin kita menyerahkan ukuran kebahagiaan pada ketukan jari orang lain, semakin jauh kita dari apa yang KAS sebut sebagai rasa sejati.

FOMO dan Flexing: Pertarungan Ego Paling Purba

KAS menyebut kecenderungan ini sebagai unggul-unggulan—dorongan saling mengungguli yang ia anggap sebagai level interaksi sosial paling rendah. Media sosial tidak menciptakan naluri ini, tapi ia merancang infrastruktur yang paling efisien untuk mengeksploitasinya.

Si pelaku flexing merasa superior, si penonton yang terjangkit FOMO (fear of missing out, atau rasa takut tertinggal) merasa inferior. Keduanya, kata KAS, sama-sama menderita karena sama-sama terjebak dalam kompetisi rasa yang tidak ada ujungnya.

Keluar dari Jebakan: Mawas Diri dan Enam-Sa

KAS tidak berhenti pada diagnosis. Ia mewariskan dua alat batin yang konkret. Pertama, mawas diri—kemampuan mengamati reaksi diri sendiri tanpa langsung hanyut di dalamnya. Saat iri melihat unggahan orang lain, bukan reaksinya yang perlu ditekan, melainkan sumbernya yang perlu dikenali: apakah ini kebutuhan nyata, atau sekadar Kramadangsa yang minta diakui?

Kedua, prinsip Enam-Sa—panduan hidup secukupnya yang dirumuskan KAS dalam bahasa Jawa: sabutuhe (sebutuhnya), sacukupe (secukupnya), saperlune (seperlunya), sabenere (sebenarnya), samestine (semestinya), sakepenake (senyamannya). Bukan prinsip asketisme ekstrem, melainkan peta untuk mengenali takaran diri—agar kita tidak dikendalikan oleh tren yang, dalam kata-kata KAS sendiri, hanya menguras energi tanpa pernah memberi kepuasan.

Algoritma akan terus belajar cara memancing emosi kita. Tapi seperti yang telah dibuktikan seorang pangeran Jawa lebih dari satu abad lalu, pertahanan paling tangguh tidak datang dari fitur privasi di ponsel—melainkan dari kemampuan mengenali diri sendiri secara jujur. Mulailah dari satu pertanyaan sederhana: siapa yang sebenarnya sedang kamu layani saat membuka media sosial?***


DAFTAR RUJUKAN

Sumber Primer — Jurnal Ilmiah & Karya Akademik

  • Bonneff, M. (1978). Ki Ageng Suryomentaram, Prince et Philosophe Javanais. Archipel, 16, 175–203. [Diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Susan Crossley: “Ki Ageng Suryomentaraman, Javanese Prince and Philosopher.” Indonesia, 57, April 1994.]
  • Kholik, A., & Himam, F. (2015). Konsep psikoterapi Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram. Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP), 1(2). https://journal.ugm.ac.id/gamajop/article/view/7349
  • Suryomentaram, K. A. (1989). Kawruh Jiwa: Wejanganipun Ki Ageng Suryomentaram (Jilid 1–4). Jakarta: C.V. Haji Masagung.
  • Widyarini, N. (2008). Kawruh Jiwa Suryomentaram: Konsep emik atau etik? Buletin Psikologi, 16(1), 46–57. https://journal.ugm.ac.id/buletinpsikologi/article/download/7496/5830

Sumber Sekunder — Institusi Akademik & Lembaga Riset