Ilmu Sungai Leluhur Sunda yang Mendahului Sains Modern

Leluhur Sunda sudah punya konsep tata kelola sungai terpadu sejak abad ke-13. Ilmu Patanjala bukan mitos—ini sains hidrologi yang terlupakan.

KOSONGSATU.ID — Sungai-sungai di Jawa Barat hari ini bercerita tentang kekalahan. Airnya keruh, tepiannya jadi tempat sampah, dan banjir datang makin sering. Padahal, leluhur Sunda pernah punya sistem tata kelola air yang jauh melampaui zamannya.

Sains Air dari Abad ke-13

Sistem itu bernama Patanjala. Secara harafiah, pata atau patan berarti air, dan jala berarti sungai atau kawasan yang wajib dijaga karena berstatus kabuyutan (situs leluhur). Konsep ini bukan sekadar filosofi—ia adalah panduan spasial yang mengatur pemanfaatan seluruh daerah aliran sungai dari hulu hingga muara.

Patanjala tertulis dalam Naskah Amanat Galunggung (Kropak 632), naskah pada daun nipah yang memuat wejangan Prabu Darmasiksa—raja Kerajaan Sunda masa Galunggung abad ke-13—kepada putranya, Ragasuci.

Pesannya tegas: “Kita tiru wujud patanjala: pata berarti air, jala berarti sungai. Tidak akan sia-sia amal baik kita, bila meniru sungai itu.” Sungai mengajarkan untuk terus mengalir pada jalurnya, mencintai keindahan, dan tidak mudah terpengaruh rintangan.

Sebelum “One River, One Plan, One Management”

Jauh sebelum dunia modern menggagas prinsip one river, one plan, one management—yang baru menjadi fondasi Brantas Project pada 1965—leluhur Sunda sudah mempraktikkan ilmu Patanjala.

Mereka membagi kawasan hutan secara ketat: leuweung larangan (hutan titipan yang sama sekali terlarang dirambah), tutupan (hutan lindung), dan baladahan (kawasan pemanfaatan pertanian). Mereka juga mengklasifikasikan sungai secara bertingkat: dari walungan (sungai induk), wahangan, solokan, hingga susukan (anak sungai terkecil).

Sistem ini—seperti yang dicatat dalam kajian Kembali ke Laku Patanjala—membuktikan bahwa prinsip pengelolaan daerah aliran sungai terpadu bukan barang impor dari peradaban Barat.

Patanjala, kearifan lokal Sunda abad ke-13 tentang tata kelola air dan ekologi. – ILUSTRASI AI GENERATE

Air sebagai Keadilan

Kecerdasan Patanjala tidak berhenti pada teknis hidrologi. Ia menyentuh ranah etika kekuasaan. Tri Tangtu di Buana, sistem pembagian kekuasaan Kerajaan Sunda yang analog dengan Trias Politica Montesquieu, menempatkan golongan Resi sebagai penjaga norma—yang dilambangkan dengan air.

Filolog Universitas Padjadjaran, Undang A. Darsa, menguraikan bahwa dalam sistem ini, Prebu (setara eksekutif) menggurat batu, Rama (setara legislatif) menggurat tanah, dan Resi (setara yudikatif) menggurat air. Mengapa air? Karena air selalu mencari titik datar—ia adalah simbol keadilan tertinggi yang tidak bisa direkayasa.

Dari Naskah ke Gerakan

Kecerdasan kosmoekologis ini tidak mati di atas lontar. Saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020—yang mereka maknai sebagai sasalad (wabah) atau tanda perubahan zaman—masyarakat pewaris ajaran Patanjala mendirikan Baresan Incu Putu Pangauban (BIPP).

Komunitas ini menjalankan pemulihan alam berbasis Patanjala: dari Taman Nasional Ujung Kulon hingga Gunung Masigit Kareumbi, dan kini melibatkan pangauban dari berbagai penjuru Nusantara—Gunung Halimun, Gunung Pangrango, Gunung Wayang, hingga Gunung Raung di Jawa Timur.

Mengembalikan Etika Air

Penghormatan leluhur Sunda terhadap air tergambar bahkan dalam penamaan tempat. Hampir semua wilayah Sunda berawalan Ci (air): Cianjur, Ciamis, Cirebon—sebuah pengingat bahwa identitas pun dibangun dari air.

Sementara NOAA (National Ocean Service) mencatat bahwa air tawar hanya sebagian kecil dari total air di bumi yang didominasi air laut, tradisi Islam pun menyampaikan pesan serupa: jangan boros air, bahkan di tepi sungai yang mengalir (Sunan Ibn Majah No. 425).

Patanjala mengajarkan bahwa sungai bukan selokan pembuangan—ia adalah urat nadi kehidupan yang wajib dirawat bersama. Pertanyaannya bukan lagi apakah leluhur kita cerdas. Pertanyaannya adalah: mengapa kita tidak meniru mereka?***


Daftar Rujukan

Naskah Kuno & Sumber Primer

  • Atja & Danasasmita, S. (1981). Amanat dari Galunggung (Kropak 632 dari Kabuyutan Ciburuy, Bayongbong-Garut). Bandung: Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat.

Jurnal Ilmiah

Lembaga Resmi & Institusi

Media Terverifikasi & Liputan Jurnalistik

Sumber Hadis

Sumber Pendukung Validasi