Sebelum Soekarno pamit pada sore harinya, Syaikh Abbas memberikan sebuah kenang-kenangan penuh makna: sebuah peci hitam dengan potongan yang lebih tinggi dari yang biasa Soekarno pakai.
“Peci ini kuberikan supaya kamu menyadari bahwa bangsa ini mayoritas umat Islam,” pesan Syaikh Abbas sembari menyerahkan peci tersebut. Soekarno langsung mengenakannya, dan momen itu diabadikan dalam sebuah potret tua yang hingga kini masih menghiasi dinding Pesantren Darul Funun El Abbasiyah.
Banyak pihak menyakini bahwa pesan kuat dari Padang Japang inilah yang meresap ke dalam sanubari Soekarno, lalu mengkristal menjadi rumusan dasar negara yang ia sampaikan pada sidang BPUPKI, 1 Juni 1945—hari yang kini kita peringati sebagai hari lahirnya Pancasila.
Penutup: Hukum Karma Sang Penjajah
Setelah pertemuan singkat dalam hitungan jam itu, Soekarno bertolak ke Jakarta untuk menjemput kemerdekaan. Sementara Syaikh Abbas kembali pada panggilannya, mengajar para santri bersama sang kakak hingga akhir hayatnya di tahun 1957. Beliau beristirahat dengan tenang di kompleks pesantren yang ia rintis dari bawah.
Sejarah pada akhirnya berputar layaknya roda. Tiga tahun setelah Belanda lari terbirit-birit, Kekaisaran Jepang merasakan ketakutan yang sama ketika bom atom menghantam Hiroshima dan Nagasaki. Di saat Jepang bertekuk lutut dan tentara Sekutu datang membonceng Belanda yang ingin kembali berkuasa, Indonesia sudah terlampau kuat.
Fondasi negara yang digagas dari diskusi-diskusi panjang antara tokoh bangsa dan para ulama, termasuk dari ketenangan Padang Japang, telah menancap erat di bumi pertiwi dan tak bisa lagi digoyahkan.
Kutipan Sejarawan
Peran ulama Minangkabau dalam memengaruhi diskursus politik Soekarno telah diakui oleh para peneliti sejarah. Deden Ridwan, seorang penulis dan pengkaji sejarah Islam Nusantara, mencatat pentingnya pertemuan ini:
“Kedatangan Soekarno ke Darul Funun bertujuan murni untuk membicarakan konsep dasar dan penyelenggaraan negara. Persisnya, Syaikh Abbas dengan tegas menyarankan bahwa negara yang kelak didirikan haruslah berdasar ketuhanan. Dan Soekarno mengangguk. Tanda mengamini, setuju.”




Tinggalkan Balasan