Ketokohan Syaikh Abbas tidak jatuh dari langit. Pada 1896, saat usianya baru menginjak 13 tahun, beliau membujuk pamannya (mamak) agar membawanya ikut menunaikan ibadah haji ke Makkah. Menariknya, ketika sang paman bersiap pulang, pemuda Abbas justru meminta izin untuk menetap.

Ia memilih menahan rindu pada kampung halaman demi mencecap ilmu agama kepada Syaikh Ahmad Khatib dan ulama besar lainnya selama delapan tahun lamanya.

Mengembara Menjemput Pembaruan

Keranjingan Syaikh Abbas pada ilmu tidak berhenti di Makkah. Setelah pulang ke tanah air pada 1904 dan mendirikan Pesantren Sumatera Thawalib Padang Japang, dahaga pengetahuannya kembali memanggil.

Tujuh belas tahun kemudian, tepatnya pada 1921, beliau kembali berlayar ke Makkah dan melanjutkan langkah ke Mesir untuk menimba ilmu di Universitas Al-Azhar.

Menjelang kepulangannya pada 1924, Syaikh Abbas sengaja melintasi jalur darat yang panjang: Palestina, Lebanon, Suriah, Iran, hingga Turki. Beliau mengamati langsung bagaimana sistem pendidikan Islam modern bekerja di sana.

Pengalaman melihat majunya sistem pendidikan di Turki—terutama institusi Darul Funun (Rumah Pengetahuan) yang kelak bertransformasi menjadi Istanbul University—amat membekas di benaknya.

Inspirasi ini beliau bawa pulang. Ketika merasa tidak sejalan dengan masuknya pesantren ke dalam faksi politik Permi (Persatuan Muslimin Indonesia) pada 1930, beliau tegas menarik diri. Syaikh Abbas kemudian merombak nama pesantrennya menjadi Darul Funun El Abbasyiah, menggabungkan nama institusi modern Turki dengan namanya sendiri.

Beliau bukan sekadar pendidik, melainkan pejuang revolusioner. Saat revolusi fisik pecah pada 1945, Syaikh Abbas memobilisasi murid-muridnya ke garis depan. Majelis Islam Tinggi (MIT) di Bukittinggi bahkan menunjuknya sebagai “Imam Jihad”.

Darul Funun berubah fungsi menjadi benteng pertahanan bagi Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). Tokoh sekelas Mr. Teuku Mohammad Hasan kerap menjadikan pesantren ini sebagai markas komando untuk merumuskan strategi negara.

Pelarian Berbahaya Sang Proklamator

Pertemuan Soekarno dengan Syaikh Abbas terjadi pada momen yang paling genting dalam sejarah negeri ini. Awal 1942, angin kekuasaan kolonial Hindia Belanda mulai runtuh. Militer Jepang merangsek maju bagai badai, menduduki negara-negara Asia dengan kecepatan yang menebar teror di hati pasukan Belanda.