Kisah Syaikh Abbas Abdullah, ulama besar Minangkabau pendiri Darul Funun yang menginspirasi Soekarno merumuskan dasar negara kita.


KOSONGSATU.ID–Bung Karno adalah sosok pergaulan. Sepanjang hidupnya, Sang Proklamator kerap bersahabat, berdiskusi, dan berjuang bersama tokoh-tokoh besar dari berbagai latar belakang.

Namun, jika kita menengok masa awal pergerakan, para pemikir dari ranah Minangkabau tampak menempati ruang khusus di hati beliau. Mulai dari Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, hingga Haji Agus Salim sering terlibat adu argumen yang sengit namun hangat dengan Soekarno.

Kedekatan ini tidak hanya terbatas pada tokoh politik. Soekarno juga memelihara hubungan batin yang kuat dengan kalangan ulama. Saat pemerintah kolonial Belanda mengasingkan Sekh Abdul Karim Amrullah (ayahanda Buya Hamka) ke Sukabumi dan Jakarta, Soekarno kerap datang menjenguk. Beliau menjadikan sang ulama layaknya ayah sendiri, tempat ia menimba ilmu agama dan wawasan kebangsaan.

“Ayah kita, Bung,” pesan Buya Hamka pada pertemuan terakhirnya di Jakarta. “Jangan khawatir, Saudara,” jawab Soekarno tegas, meyakinkan sahabatnya itu.

Di antara deretan ulama Minang yang amat Soekarno hormati, berdirilah sosok Syaikh Abbas Abdullah, pendiri pondok pesantren Darul Funun El Abbasiyah di Padang Japang, Kabupaten Lima Puluh Kota. Bagaimana persisnya ulama ini mengubah jalan pikiran seorang Soekarno?

Sang Ulama Pendiam dari Padang Japang

Siapakah sebenarnya Syaikh Abbas Abdullah? Beliau bersama sang kakak, Syaikh Mustafa Abdullah, adalah murid langsung dari Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, seorang imam dan khatib besar di Masjidil Haram yang menetaskan banyak ulama Nusantara abad ke-20.

Buya Hamka, sejarawan sekaligus ulama terkemuka, mencatat sosok Syekh Abbas dalam bukunya Ayahku. Hamka mendeskripsikan beliau sebagai figur ulama yang pendiam dan keras hati.

Beliau memang tidak piawai berpidato meledak-ledak di atas mimbar. Namun, kepiawaian utamanya terletak pada ruang kelas. Setiap butir perkataan yang meluncur dari lisannya begitu bernas; tidak ada satu pun kalimat yang hampa makna jika kita menyimaknya dengan saksama.