Di tengah kepanikan itu, Soekarno tengah menjalani masa pembuangan di Bengkulu. Suatu malam yang buta, dua polisi Belanda datang membawa perintah mendadak.

Mereka memaksa Soekarno mengemasi barang untuk pergi secara rahasia. Belanda sangat ketakutan jika tokoh sentral ini jatuh ke tangan Jepang. Rencananya, mereka ingin membawa Soekarno hidup-hidup ke Padang, untuk kemudian menerbangkannya ke Australia.

Enam polisi bersenjata mengawal Soekarno menembus rimba belantara Sumatra, berjalan kaki sejauh 300 kilometer dari Muko-Muko menuju Padang. Namun, setibanya di sana, kota sudah lumpuh. Penjarahan merajalela. Di tengah suasana kacau balau (chaos) itu, nyali Belanda menciut. Mereka lari tunggang langgang menyelamatkan nyawa masing-masing, meninggalkan Soekarno begitu saja.

“Ini adalah kesalahan besar mereka,” ujar Soekarno kelak dalam autobiografinya.

Jepang masuk dengan mudah. Selama lima bulan (Februari hingga Juli 1942), Soekarno bertahan di Sumatra Barat. Di sinilah ia menjalin komunikasi intens dengan para tokoh pergerakan, mencari jalan keluar: apakah harus bersiasat bekerja sama dengan Jepang, atau kembali mengangkat senjata?

Nasihat Ketuhanan dan Sepucuk Peci Hitam

Di tengah masa pencarian itu, tepatnya pada Juni 1942, Soekarno beserta Inggit Garnasih memutuskan bertandang ke Padang Japang menemui Syaikh Abbas. Sayangnya, mereka tiba terlambat dua jam dari jadwal. Syaikh Abbas yang disiplin dan berwatak keras langsung menegurnya dengan tajam.

“Kalau begini kau memimpin negara ini, rakyat akan kecewa, negara akan binasa.”

Menyadari kekeliruannya, pria yang kelak menjadi orator ulung itu hanya bisa diam dan tersenyum hormat.

Di balik teguran keras itu, perbincangan mereka berlangsung sangat mendalam. Soekarno, yang tengah mematangkan visi kebangsaannya, meminta pandangan Syaikh Abbas mengenai fondasi negara apabila Indonesia merdeka kelak.

Sang ulama memberikan petuah yang sangat mendasar: negara yang berdiri nanti haruslah berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Syaikh juga mewanti-wanti Soekarno agar selalu waspada terhadap ideologi yang bertentangan dengan nilai-nilai agama.