Tekanan harga BBM memukul daya beli jutaan warga. Tapi sejarah panjang Nusantara menyimpan satu fakta yang sering terlupakan: nenek moyang kita tidak pernah bergantung pada minyak — dan masa depan kita pun tidak seharusnya begitu.

KOSONGSATU.ID — Ada yang berulang dalam setiap siklus krisis energi Indonesia: begitu harga bahan bakar minyak melambung, percakapan publik tersedot ke pusaran angka — subsidi, disparitas harga, beban anggaran.

Yang nyaris tak pernah diajukan adalah pertanyaan yang jauh lebih tua: mengapa bangsa yang duduk di atas cadangan energi terbarukan terbesar di dunia masih bisa tersandera oleh fluktuasi minyak global?

Jawabannya menyimpan ironi yang bersifat historis — sekaligus pelajaran yang belum tuntas dipetik.

Sebelum Minyak Ada Kincir

Jauh sebelum kata “BBM” masuk ke kosakata sehari-hari, masyarakat Nusantara sudah mengelola energi dengan cara yang kini kita sebut berkelanjutan.

Kincir air memutar penggilingan padi. Layar menangkap angin untuk menyeberangi Laut Jawa, membawa rempah ke pelabuhan-pelabuhan yang jauh. Di pesisir utara Jawa, hembusan angin laut menggerakkan produksi garam.

Energi bukan komoditas yang dibeli — ia diambil dari lingkungan sekitar dengan kesadaran penuh. Kearifan itu lahir dari dua hal yang tampak bertolak belakang: keterbatasan sekaligus kelimpahan alam.

Minyak Datang, Kedaulatan Pergi

Babak energi Indonesia berubah drastis ketika Belanda melakukan pengeboran pertama di Cirebon pada 1871 — hanya dua belas tahun setelah pengeboran pertama di dunia di Pennsylvania.

Royal Dutch Company beroperasi di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara, pada 1885. Kilang-kilang tumbuh. Kapal tanker berlayar membawa kekayaan bumi Nusantara ke Eropa.

Rakyat pribumi tidak mendapat apa pun. Mereka menyaksikan tanah mereka dipompa dan diekspor oleh tangan asing selama puluhan tahun — tanpa kompensasi, tanpa suara.

1957: Indonesia Merebut Kembali Energinya

Kemerdekaan 1945 membuka pintu bagi babak yang berbeda. Pemerintah mengambil alih aset migas yang sebelumnya dikuasai Belanda dan Jepang — fondasi kemandirian energi nasional.