Setelah dibungkam di Belanda, Sosrokartono pulang ke Indonesia. Ia tak bikin partai, tak pidato. Tapi dari rumah kecil di Bandung, ia menyalakan api kebangsaan dalam diam yang penuh makna.

KOSONGSATU.ID—Tahun 1927, R.M.P. Sosrokartono kembali ke Indonesia. Ia tidak datang sebagai doktor, tidak pula sebagai pejabat atau pemuka partai. Ia kembali sebagai manusia biasa—dengan segunung luka, idealisme yang belum padam, dan cinta besar pada bangsanya.

Di Bandung, ia menyewa sebuah rumah kecil di Jl. Pungkur No. 19. Rumah itu diberinya nama “Dar Oes Salam”—Rumah Kedamaian. Di tempat sederhana itulah sosok besar ini mulai membangun benteng sunyi untuk kebangkitan Indonesia.

Tak ada spanduk. Tak ada slogan politik. Tapi, rumah itu segera dikenal sebagai tempat bersemainya semangat nasionalisme.

Rumah kontarakan Sosrokartono bernama Dar Oes Salam di Jalan Pungkur nomor 19 Kota Bandung. – FOTO: Buku R.M.P. Sosrokartono: Sebuah Biografi (1987)

Sejarawan Haryoto Kunto mencatat, Dar Oes Salam menjadi ruang berteduh bagi para pejuang kemerdekaan. Bung Karno, konon, sering datang ke sana. Mereka yang singgah bukan untuk mendengarkan ceramah panjang. Tapi, untuk menimba ketenangan, kejernihan pikiran, dan semangat juang dari seorang yang hidup dalam kesederhanaan total.

Kartono bukan hanya inspirasi diam. Ia juga menjadi pendidik. Ia ditunjuk Ki Hajar Dewantara sebagai kepala sekolah di Nationale Middelbare School, cabang Taman Siswa di Bandung. Di sekolah itulah kelak sejumlah tokoh pergerakan mengajar, seperti Ir. Sukarno, Dr. Samsi, Mr. Sunario, hingga Mr. Usman Sastroamidjoyo.

Gedung sekolah itu, yang kini dikenal sebagai Gedung Darussalam, menjadi pusat pendidikan sekaligus markas PNI dan Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO). Dari tempat itu, pergerakan nasional menggeliat, menjalar, dan menyatu dengan denyut rakyat.

Fitnah Belanda

Namun, kehadiran Sosrokartono yang diam-diam berpengaruh membuat penguasa kolonial gelisah. Bagaimana mungkin seorang bangsawan Jawa, mantan mahasiswa jenius Leiden, penguasa puluhan bahasa, dan sahabat para elite Eropa, memilih hidup bersahaja di tanah jajahan, kalau bukan untuk merancang pembebasan?

Pemerintah Hindia Belanda mencatatnya sebagai “tokoh yang tidak bisa dipercaya.” Dalam laporan rahasia Van Der Plas, Sosrokartono dicurigai sebagai penganjur swadesi dan ancaman terhadap ketertiban kolonial. Ia bahkan dicap komunis.

Sebuah fitnah yang keji. Sosrokartono tak pernah memeluk paham komunis. Ia bahkan bersumpah di hadapan sahabat keluarganya, Abendanon: “Saya bersumpah atas kubur ayah saya dan Kartini, saya tak pernah sekalipun menganut Komunisme. Yang saya inginkan hanyalah mendidik mental anak bangsa saya.”

Tuduhan itu hanyalah taktik murahan kolonialisme untuk membungkamnya. Tapi, Kartono tak melawan dengan pidato. Ia melawan dengan keteladanan.

Ia menolak tawaran jabatan dari Pemerintah Hindia Belanda. Ia menolak godaan gaji besar. Bahkan, setelah Indonesia merdeka, ketika Sukarno menawarkan jabatan menteri, ia menolak.

“Karena aku berpegang pada tasawuf makrifat,” katanya, sebagaimana dituturkan oleh Temu Sunarto, juru kunci makamnya di Kudus. “Aku tidak ingin memburu kekuasaan atau pujian.”

Yang ia perjuangkan adalah pendidikan batin. Ia ingin menyentuh jiwa bangsanya, bukan memimpin dari atas podium. Bahkan, ia tak pernah mau disebut “guru”. Ia percaya, “Guru sejati adalah penderitaan dan kebahagiaan sesama.”

Ia pernah berkata: “Murid gurune pribadi Guru, Muride pribadi pamulangane, Sengsarane sesami Ganjarane, Ayu lan arumi sesami. (Guru sang murid adalah pribadi murid sendiri, murid sang guru adalah pribadi sang guru sendiri, bahan pelajaran baginya adalah kesengsaraan sesama, pahalanya adalah kebahagiaan bersama.)”

Bagi Kartono, kemerdekaan bukan hasil politik. Ia buah dari perenungan, kejujuran, dan pengabdian. Maka, ia memilih jalan sunyi. Tak ingin ditulis dalam buku sejarah. Tak ingin namanya diagung-agungkan.

Dan ketika Kartono wafat pada 8 Februari 1952, di rumah kontrakannya itu, ia meninggalkan warisan yang tak bisa dinilai dengan gelar, uang, atau jabatan: integritas seorang pejuang sejati.

Di Bandung, rumah kecilnya tetap dikenal sebagai Dar Oes Salam. Tempat di mana sunyi menjadi cahaya. Dan bangsa ini, perlahan, belajar berjalan dengan martabat.—bersambung