Goresan huruf Alif dari sang mentor menemani setiap langkah politik Bung Karno secara diam-diam.
KOSONGSATU.ID – Sebuah peci hitam selalu bertengger kokoh di kepala Bung Karno, namun tak banyak orang tahu ada secarik kertas mungil terselip di dalamnya.
Kertas seukuran prangko itu berisi goresan huruf Alif, sebuah azimat spiritual dari sang mentor, Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono. Di balik retorika politiknya yang menggelegar, Sang Putra Fajar ternyata memendam sisi sufistik yang dalam, terpaut erat dengan sunyinya jalan pengabdian “Sang Alif” dari Bandung.
Mentor di Balik Jeruji Banceuy
Persahabatan mereka bukan sekadar hubungan murid dan guru bahasa, melainkan pertautan jiwa dua putra besar Indonesia. Saat Bung Karno mendekam di penjara dan menanti vonis hakim Landraad Bandung pada 1930, kecemasan menyelimuti para pembelanya. Malam sebelum putusan, enam orang kawan Soekarno mendatangi rumah Sosrokartono di Jalan Pungkur tanpa janji terlebih dahulu.
Anehnya, Sosrokartono telah menunggu dengan enam kursi yang tertata rapi membentuk setengah lingkaran. Tanpa sepatah kata tanya, ia berujar pelan namun tajam: “Soekarno adalah seorang satria. Pejuang seperti satria boleh saja tersungkur, tetapi ia akan bangkit kembali. Waktunya tidak lama lagi.” Ramalan itu terbukti akurat. Meski hakim menjatuhkan vonis empat tahun, Soekarno bangkit dan hanya menjalani setahun penjara sebelum akhirnya memimpin bangsa menuju gerbang kemerdekaan.

Misteri Angka 17 dan Restu Para Sufi
Bukan kebetulan Bung Karno bersikeras memilih 17 Agustus 1945 sebagai hari keramat. Lima bulan sebelum proklamasi, ia melakukan perjalanan sunyi menemui empat ulama mukasyafah (terbuka mata batinnya): Syeikh Musa, KH Abdul Mu’thi, KH Hasyim Asy’ari, dan tentu saja RMP Sosrokartono.
Dari para ulama tasawuf inilah, Soekarno menerima isyarat bahwa berkat rahmat Tuhan akan turun pada Jumat Legi, 9 Ramadhan 1364 H. Isyarat langit ini ia kunci rapat dalam rasionya. Ia bahkan berani menolak desakan para pemuda yang memintanya memproklamirkan kemerdekaan pada 15 atau 16 Agustus. “Aku percaya pada mistik,” aku Bung Karno kepada Cindy Adams. Bagi Soekarno, angka 17 adalah angka suci—jumlah rakaat salat, tanggal turunnya Al-Qur’an, dan takdir yang sudah tertulis indah di “Lauh Mahfuzh”.



0 Komentar