Catur Murti: Kemudi Batin Sang Pemimpin

Kedekatan Bung Karno dengan Sosrokartono juga mewariskan fondasi etika kepemimpinan yang dikenal sebagai Catur Murti. Ajaran ini menuntut keselarasan mutlak antara pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatan. Sosrokartono menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki pikiran yang benar, perasaan yang suci, perkataan yang jujur, dan perbuatan yang nyata bagi sesama.

Bung Karno juga menyerap filosofi “Sugih tanpa banda, digdaya tanpa aji, menang tanpa ngasorake” (Kaya tanpa harta, sakti tanpa jimat, menang tanpa merendahkan). Prinsip inilah yang menjaga martabat batin Soekarno saat ia kehilangan kekuasaan politiknya; ia tetap merasa kaya secara jiwa meski secara materi ia tidak menumpuk harta pribadi.

Mandor Klungsu: Pengabdian dalam Diam

RMP Sosrokartono, kakak kandung RA Kartini yang poliglot dan mantan wartawan perang internasional, memilih jalan hidup yang kontras dengan kemegahan. Ia menolak jabatan mentereng dari Belanda dan lebih memilih menetap di rumah panggung sederhana bernama Dar Oes Salam.

Di sana, ia dikenal sebagai “Dokter Air Putih”. Hanya dengan mencelupkan telunjuk—simbol huruf Alif—ke dalam segelas air, ia mengobati rakyat jelata. Bung Karno sangat mengagumi kerendahhatian ini. Baginya, Sosrokartono adalah personifikasi kekuatan spiritual yang tidak butuh panggung. Bahkan, saat Indonesia merdeka, Sosrokartono menolak gelar pahlawan karena enggan jasanya diketahui khalayak ramai.

“Sosrokartono adalah sahabat saya, dan oleh karena beliau adalah Putra Indonesia yang Besar.”

Ir. Soekarno, 1 November 1954 (Surat kepada Keluarga Monosoeko).

Akhir Perjalanan Sang Pejalan Spiritual

Ketika Sosrokartono wafat pada 8 Februari 1952, Bung Karno memberikan penghormatan terakhir yang luar biasa. Ia memerintahkan pesawat AURI untuk menerbangkan jenazah sang guru dari Bandung ke Kudus. Ini merupakan kali pertama dalam sejarah republik, pesawat militer mengangkut jenazah warga sipil—sebuah penghormatan tertinggi bagi sosok yang telah mengisi “bensin” spiritual ke dalam jiwa Sang Proklamator.***