Di Desa Dersono, sungai hijau toska bukan sekadar latar swafoto. Ia menjadi jalur kerja bagi pengemudi perahu, warung kecil, hingga warga yang sedang belajar merawat mesin listrik.

KOSONGSATU.ID — Menjelang sore, suara mesin perahu biasanya menjadi bagian dari perjalanan di Sungai Maron. Namun, di salah satu perahu yang mulai beralih ke tenaga listrik, suara itu menipis. Yang tersisa adalah riak air di bawah lambung, gesekan angin pada daun kelapa, dan percakapan pendek wisatawan yang menoleh ke kanan-kiri.

Di tepian sungai, rumpun bambu dan pohon kelapa membentuk lorong hijau. Airnya memantulkan warna dedaunan, kadang tampak hijau toska ketika cuaca cerah. Pemandangan inilah yang membuat Sungai Maron di Desa Dersono, Kecamatan Pringkuku, Pacitan, lama dijuluki sebagai “Amazon Jawa”.

Julukan itu tentu bukan perbandingan geografis. Sungai Maron tidak membelah hutan hujan Amerika Selatan. Tetapi, bagi wisatawan yang duduk di perahu kecil dan menyusuri koridor vegetasi tropis menuju muara Pantai Ngiroboyo, kesan petualangannya cukup nyata.

Kini, yang berubah bukan hanya cara orang melihat Sungai Maron. Pemerintah Kabupaten Pacitan dan pengelola wisata mulai mendorong peralihan perahu berbahan bakar fosil ke perahu listrik. Bagi warga, perubahan itu bukan sekadar proyek teknologi. Ia menyangkut biaya operasional, keterampilan baru, dan masa depan ruang hidup yang selama ini menjadi sumber penghasilan.

Warna Sungai yang Tidak Selalu Sama

Sungai Maron tidak selalu berwarna hijau kebiruan seperti yang banyak muncul di media sosial. Warna airnya bergantung pada musim, cuaca, debit, serta material yang terbawa dari hulu.

Saat kemarau dan langit cerah, air cenderung terlihat lebih jernih. Pantulan pepohonan dan langit membuat permukaannya tampak hijau atau kebiruan. Pada periode hujan, air dapat berubah lebih keruh karena limpasan tanah dan sedimen dari kawasan hulu.

Perubahan itu penting dipahami karena sering kali wisata alam dijual melalui satu gambar yang terlalu sempurna: sungai bening, langit cerah, dan perahu yang melaju pelan. Padahal, Sungai Maron adalah ekosistem yang terus bergerak. Saat hujan deras, arus dapat berubah dan perjalanan perahu tidak selalu aman dilakukan.

Jalur susur sungai menuju Pantai Ngiroboyo selama ini menjadi daya tarik utamanya. Sejumlah panduan perjalanan menyebut lintasan wisata itu sekitar 4,5 kilometer dengan durasi kurang lebih 45 menit, meski waktu tempuh dapat berubah mengikuti kondisi arus dan cuaca.

Di sepanjang perjalanan, wisatawan melewati vegetasi bantaran, batuan karst, serta beberapa titik yang lebih tenang untuk berhenti sejenak. Bagi warga, bentang alam itu bukan dekorasi. Ia adalah modal utama yang harus tetap terjaga agar wisata tidak habis oleh keramaian.

Dari Perahu Wisata Menjadi Rantai Ekonomi Desa

Wisata sungai tidak berhenti pada tiket masuk atau sewa perahu. Setiap perahu yang berangkat menggerakkan mata rantai ekonomi kecil di desa: pengemudi perahu, penjaga dermaga, pemilik warung, penjual kelapa muda, pembuat makanan ringan, hingga warga yang menawarkan jasa parkir dan oleh-oleh.

“Memang banyak yang menyebut Sungai Maron mirip Amazon. Yang pasti bagi kami warga sekitar, dengan wisata sungai ini perekonomian bisa bergerak. Ada yang menyewakan kapal, buka warung, membuat camilan dan oleh-oleh,” kata seorang pemandu wisata lokal Sungai Maron kepada Kosongsatu.id, Minggu, 5 Juli 2026.

Namun, pertumbuhan jumlah kunjungan juga membawa persoalan yang tidak selalu terlihat dari atas perahu. Pengelolaan wisata membutuhkan pemandu yang memahami keselamatan air, operator yang mampu merawat mesin, sistem pengelolaan sampah, serta aturan kecepatan perahu agar tepian sungai tidak cepat rusak.

Pemandu itu mengatakan kebutuhan terbesar warga saat ini bukan semata penambahan armada. Mereka membutuhkan pelatihan dan pendampingan agar mampu mengelola destinasi secara lebih profesional.