“Salah satu tantangan kami dalam mengembangkan Sungai Maron adalah terkait sumber daya manusia. Dengan ilmu dan keterampilan yang cukup, kami optimistis bisa lebih cepat berbenah,” ujarnya.

Pernyataan itu menempatkan Sungai Maron pada persoalan yang lebih luas: banyak desa wisata tumbuh karena keindahan alamnya, tetapi keberlanjutannya ditentukan oleh kemampuan warga mengelola dampak keramaian. Tanpa penguatan keterampilan, destinasi bisa ramai di media sosial tetapi rapuh dalam praktik.

Ketika Mesin Mulai Tidak Mendominasi Sungai

Pada 14 Januari 2026, Sungai Maron memasuki babak baru. Pemerintah Kabupaten Pacitan mencatat PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Pacitan menyerahkan bantuan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan untuk mendukung pariwisata hijau di kawasan itu.

Bantuan tersebut mencakup 10 unit perahu wisata listrik dan satu fasilitas pengisian daya khusus. Total nilai program disebut lebih dari Rp1,1 miliar. Selain armada listrik, program itu juga mencakup paving berbahan fly ash bottom ash atau FABA, tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle, sistem peringatan dini banjir, rambu zonasi kecepatan perahu, gapura, serta bangunan penjaga pantai.

Perahu listrik menawarkan dua perubahan sekaligus. Pertama, kebisingan mesin berkurang sehingga pengalaman menyusuri sungai menjadi lebih tenang. Kedua, penggunaan bahan bakar fosil dapat ditekan pada armada yang telah beralih.

Tetapi, perahu listrik tidak otomatis membuat wisata menjadi hijau. Keberlanjutan akan ditentukan oleh beberapa hal yang lebih rumit: sumber listrik untuk pengisian daya, perawatan baterai, pengelolaan limbah perangkat, kapasitas operator lokal, hingga disiplin wisatawan untuk tidak membuang sampah ke sungai.

Senior Manager PLN Nusantara Power UP Pacitan, Munif, menekankan bahwa program tersebut tidak hanya diarahkan pada pengadaan peralatan. Ia menyebut pengembangan kemampuan warga Pokdarwis menjadi bagian penting agar masyarakat lokal dapat merakit dan merawat mesin perahu listrik secara mandiri.

Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji juga menyatakan program itu diharapkan menjadi contoh pengelolaan wisata lain di daerahnya. Pemerintah kabupaten menilai peralihan teknologi dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat dan perlindungan lingkungan.

Wisata Murah, Tanggung Jawab Mahal

Sungai Maron tetap dikenal sebagai destinasi yang relatif terjangkau. Sejumlah publikasi perjalanan pada 2025 mencatat tiket masuk sekitar Rp5.000 per orang, sementara sewa perahu sekitar Rp100.000 untuk satu kapal berkapasitas tiga hingga empat orang. Tarif tersebut perlu dikonfirmasi kembali kepada pengelola sebelum berangkat karena dapat berubah mengikuti kebijakan operasional dan musim kunjungan.

Kawasan wisata ini umumnya beroperasi dari pagi hingga sore. Wisatawan yang datang saat musim kemarau cenderung memiliki peluang lebih besar melihat warna air yang jernih. Namun, cuaca tetap harus menjadi pertimbangan utama, terutama bagi pengunjung yang membawa anak-anak atau belum terbiasa berada di perairan terbuka.

Jaket pelampung bukan pelengkap untuk foto. Ia harus menjadi perlengkapan wajib selama susur sungai. Wisatawan juga perlu mengikuti arahan pengemudi perahu, tidak berpindah tempat secara mendadak, dan menghindari berenang di titik yang tidak direkomendasikan pengelola.

Di ujung perjalanan, Sungai Maron bermuara ke kawasan Pantai Ngiroboyo. Di sana, cerita tentang sungai hijau tidak berhenti sebagai bahan unggahan. Ia berubah menjadi pertanyaan yang lebih penting: apakah sebuah desa dapat menerima semakin banyak wisatawan tanpa kehilangan sungai yang membuat orang datang?

Jawabannya mungkin sedang melaju perlahan di atas air. Bukan dengan suara mesin yang meraung, melainkan dengan perahu yang bergerak lebih senyap—dan warga yang belajar memastikan sungai itu tetap hidup setelah wisatawan pulang.***