Ia punya pengaruh besar di balik sosok Kartini, tapi tak pernah ingin dikenang. Sosrokartono memilih jalan sunyi: menyalakan adiknya jadi pahlawan, lalu menghapus jejaknya sendiri dari sejarah.
KOSONGSATU.ID—Sosrokartono tidak pernah mengejar gelar, jabatan, atau kemasyhuran. Ia bahkan menolak disebut pahlawan, meskipun banyak yang menilai dirinya lebih dari pantas untuk itu.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Presiden Sukarno sempat menawarkan posisi menteri kepadanya. Tapi, Sosrokartono menolak dengan halus. Ia berkata, “Kekuasaan bukan jalannya”.
Ia memilih tetap di balik layar, mengabdi dengan cara yang tak tercatat di buku sejarah.
Namun, ada satu jejak sunyi yang ia tinggalkan—yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi bangsa: pengangkatan Kartini sebagai Pahlawan Nasional.
Kartini, adik perempuannya, memang telah wafat muda. Tapi, berkat kerja Sosrokartono, surat-surat Kartini dikumpulkan, diterjemahkan, dan diterbitkan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.
Buku itu diterbitkan di Belanda, dan menjadi jembatan gagasan emansipasi wanita Hindia.
Sosrokartono menyunting, mengirim, dan mengemas surat-surat itu ke dunia Eropa. Ia bukan sekadar penerus warisan Kartini, melainkan penyampai utama pesan Kartini kepada dunia. Sosro-lah yang secara sadar “memviralkan” Kartini, bukan sebaliknya.
Ketika Sukarno mencari simbol kebangkitan perempuan Indonesia, Sosrokartono tak mengajukan namanya sendiri. Ia mengajukan Kartini.
Dalam keheningan Dar Oes Salam, ia bicara tentang pentingnya emansipasi perempuan. Baginya, kebangkitan Indonesia tidak bisa dicapai tanpa bangkitnya kaum wanita.
“Nasib bangsa ini tergantung pada pendidikan wanitanya,” begitu kira-kira keyakinannya.
Ia melihat jauh ke depan. Bahkan, saat Eropa belum benar-benar membicarakan kesetaraan gender, Sosrokartono telah menyampaikannya lewat Kartini.




3 Komentar
apa Julukan dari sosrokartono..
Sang Alif
apa Julukan dari sosrokartono.