Sosrokartono gagal meraih gelar doktor karena sabotase Snouck Hurgronje. Tapi di tanah Belanda, ia justru tumbuh sebagai simbol nurani pribumi—penggerak awal nasionalisme dan teladan moral perlawanan.

KOSONGSATU.ID—Sosrokartono gagal meraih gelar doktor. Disertasinya—yang seharusnya mengupas Bahasa Jawa Tengahan sebagai jembatan antara Jawa Kuno dan Jawa Baru—tidak pernah rampung. Snouck Hurgronje lah yang memastikan kegagalan itu.

Namun, kendati tak mendapat gelar ilmiah tertinggi, Kartono justru menjelma menjadi satu sosok yang diperhitungkan di Belanda—bahkan di luar arena akademik.

Setelah ‘dibegal’ secara intelektual, Sosrokartono tetap tinggal di Negeri Belanda. Ia tidak pulang dengan tangan hampa. Justru di sanalah dia menapaki jalan sunyinya: jalan perlawanan diam yang jauh lebih efektif dari agitasi atau demonstrasi.

Ia dikenal sebagai poliglot luar biasa: menguasai 17 bahasa asing dan dengan itu menjalin dialog lintas-budaya, lintas-bangsa. Ia menjadi jembatan tak kasatmata antara Timur dan Barat. Bukan untuk memperkenalkan Belanda kepada Indonesia, tapi sebaliknya: mengenalkan budaya dan martabat Timur di hadapan dunia Barat.

Sebagai lulusan summa cum laude dari Universitas Leiden, Kartono digandeng banyak pihak. Ia sempat bekerja sebagai jurnalis untuk surat kabar ternama New York Herald Tribune, bahkan menjadi penerjemah untuk Liga Bangsa-Bangsa (cikal bakal PBB). Di sana ia mengoreksi dokumen multibahasa dengan presisi yang membuatnya dijuluki “manusia kamus berjalan.”

Namun, ia tak pernah lupa tanah air. Di luar pekerjaannya, ia ikut membidani lahirnya organisasi mahasiswa yang menjadi cikal bakal gerakan nasional Indonesia: Indische Vereeniging, kelak berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia.

Kartono bukan orator. Ia bukan agitator. Tapi, ia menjadi ruh dari gerakan itu.

Ia menanamkan sikap percaya diri pada anak-anak muda Hindia yang datang belajar ke Belanda. Bahwa mereka bukan warga kelas dua. Bahwa mereka bukan makhluk eksotis yang datang untuk mengemis ilmu. Mereka datang untuk berdiri sejajar.

Peranannya memang tak selalu tercatat dalam rapat-rapat resmi organisasi. Tapi, jejaknya tertinggal kuat.

Mohammad Hatta, Sartono, Iwa Kusumasumantri, mereka semua tahu siapa Kartono. Mereka menyebutnya sebagai sosok yang “sudah selesai dengan dirinya” dan memilih mendorong orang lain dari belakang layar.

Di Belanda, Kartono tak hanya bersahabat dengan bangsawan, tapi juga dengan pemikir-pemikir kiri, para intelektual humanis, bahkan tokoh-tokoh politik yang menentang kolonialisme. Karena itulah, ketika Belanda mencapnya “berbahaya” dan mulai memata-matainya, itu bukan karena paranoia semata.

Kartono memang menjadi pusat gravitasi baru bagi mahasiswa dan aktivis Hindia di Eropa. Ia adalah suara yang tidak berteriak, tapi menusuk nurani.

Ironisnya, di saat Belanda menutup jalan akademik untuknya, Kartono justru memberi arah bagi banyak anak muda Indonesia di perantauan. Ia menjadi pusat bimbingan informal.

Rumah kontrakannya menjadi semacam sekolah kebangsaan diam-diam. Ia memperkenalkan buku-buku, membuka pikiran, dan menguatkan mental mereka agar tidak minder di negeri orang.

Kartono tidak menumpuk kekayaan. Ia bahkan terus hidup pas-pasan karena sering menghindar dari bantuan. Beberapa surat kabar mencoba mewawancarainya—ia menolak. Ia ingin dikenang bukan karena popularitas, tapi karena integritas.

Bagi Kartono, harga diri lebih utama dari jabatan dan gelar. Ia menolak posisi strategis di Belanda. Ia menolak bayaran tinggi dari korporasi-korporasi asing. Ia bahkan menolak pelunasan utang—karena utang, katanya, adalah “harta terakhir” yang ia miliki.

Ketika akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia pada 1927, banyak yang menyayangkan: mengapa seseorang secerdas itu, dengan koneksi Eropa dan reputasi internasional, memilih pulang ke tanah jajahan?

Tapi begitulah Sosrokartono. Ia tidak mengejar gelar. Tidak mengejar kursi kekuasaan. Ia pulang untuk satu hal yang tak bisa diberikan Belanda: menjadi cahaya untuk bangsanya sendiri.

Dan saat ia kembali ke Bandung, sejarah justru mencatat: di situlah Kartono benar-benar jadi guru bangsa. Bukan lewat ruang kuliah. Tapi lewat hidupnya.bersambung