Sosrokartono berpidato lantang menantang kolonialisme. Snouck Hurgronje membalasnya dengan sabotase ilmiah. Inilah awal dari perseteruan dua tokoh yang berdiri di kutub berseberangan.
KOSONGSATU.ID—Rakyat Indonesia mengenang Kartini sebagai ikon emansipasi, namun nyaris melupakan kakaknya, Raden Mas Panji Sosrokartono. Padahal, di balik nama besar Kartini, berdiri sosok sang kakak sebagai mentor, penyuplai buku, dan pendorong utama semangat kemajuan.
Menurut sejarawan Aguk Irawan M.N., Sosrokartono adalah inspirator ide dan semangat Kartini. Dari dialah Kartini mengenal para guru Eropa dan menyampaikan pemikirannya lewat surat-surat yang kelak dibukukan sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang.
Namun, peran Sosrokartono bukan cuma sebagai inspirator adiknya. Ia adalah tokoh penting dalam pergerakan intelektual anti-kolonialisme. Tahun 1899, dalam Kongres Bahasa di Belgia, Sosrokartono berpidato dalam bahasa Belanda. Isinya menghentak dan mencengangkan bangsa Eropa.
Ia menyatakan dirinya sebagai musuh siapa pun yang ingin menjadikan bangsanya sebagai “setengah Eropa.” Ia mengajak anak-anak Jawa untuk merebut ilmu pengetahuan tanpa kehilangan jati diri. “Selama matahari dan bulan bersinar, mereka akan saya tantang!” serunya, sebagaimana dicatat Harry A. Poeze dalam Di Negeri Penjajah.
Pidato itu membuat namanya melambung. Neerlandia, majalah berpengaruh Belanda, memuatnya. Sosrokartono menjadi figur yang diperhitungkan, sekaligus ditakuti.
Namun, popularitasnya justru mengundang bahaya. Sosrokartono yang lulus dari Universitas Leiden dengan summa cum laude, gagal melanjutkan program doktoralnya. Ia “dibegal” oleh Christiaan Snouck Hurgronje, profesor Leiden yang pernah menyamar sebagai Muslim dan menjadi arsitek kolonialisme budaya Belanda di Hindia.
Snouck ditunjuk sebagai pembimbing disertasi Sosrokartono. Namun alih-alih membimbing, Snouck justru memblokirnya. Ia pernah berkata, “Selama saya di sini, Sosrokartono tak akan bisa menjadi doktor.”
Demi Martabat Bangsa
Konflik mereka bukan sekadar akademik. Pidato Sosrokartono yang membela bumiputera dianggap Snouck terlalu radikal. Ia tak suka ada pribumi seberani itu. Terlebih lagi, disertasi Sosrokartono yang rencananya berjudul De Middel Javaansche Taal dinilai mengusung pemikiran progresif tentang bahasa dan budaya lokal.
Dua sahabat Sosrokartono yang sekolah di Belanda saat itu, R.M.T. Wreksodiningrat dan R.M. Soemitro Kolopaking, mendengar langsung ancaman Snouck. Ancaman itu bukan omong kosong. Disertasi Sosrokartono tak pernah selesai. Karier akademiknya macet.
Tak cukup di situ. Snouck juga membongkar aib pribadi Sosrokartono. Ia menyurati keluarga di Jepara, membocorkan utang-utang pribadi Sosro yang menumpuk. Adik Kartini, Roekmini, menilai perilaku itu “buruk” dan menyayangkan gaya hidup sang kakak yang dianggap terlalu mewah.
Namun, ada yang lebih kompleks di balik utang-utang itu. Sosrokartono merasa dizalimi oleh sahabat keluarga sendiri, W. Sonneveld. Ia dipaksa menanggung biaya perkara hukum yang tidak ia sebabkan. “Tindakan sewenang-wenangnya membuat keluarga saya bangkrut,” tulis Sosro.
Meski banyak pihak ingin menolongnya, termasuk J.H. Abendanon, ia menolak. Sosro berkata, “Utang itu adalah hartaku.” Ia bahkan menolak tawaran pelunasan dari para bangsawan pendukung Politik Etis. Ketika mereka menyarankan agar ia menyelesaikan disertasinya agar utangnya dilunasi, ia menjawab: “Harta saya yang satu-satunya itu akan Tuan-Tuan ambil lagi dari saya?”
Bagi Sosrokartono, martabat tak bisa dibayar. Ia memilih jalan sunyi. Disertasinya tak pernah rampung, bukan karena ia tak mampu, tetapi karena ia memilih bertahan di tengah tekanan Snouck dan sistem kolonial yang anti-pribumi.
Dalam perseteruan intelektual ini, Sosrokartono kalah secara formal. Namun sejarah mencatatnya sebagai sosok yang berdiri tegak melawan arogansi kolonialisme akademik.
Dan inilah awal dari jalan panjang seorang Sosrokartono—yang kelak akan terus melawan, dari balik panggung sejarah.—bersambung




2 Komentar