Setelah nyantri, Sosrokartono menembus jantung akademik Eropa. Di Belanda, ia menjelma menjadi tokoh bumiputera paling cemerlang—sebelum dijegal oleh Snouck Hurgronje.
KOSONGSATU.ID—Sosrokartono bukan sekadar pelajar dari negeri jajahan yang datang ke Eropa. Ia tampil sebagai anak pribumi yang mengguncang para profesor.
Setelah lulus dari HBS dan menyelesaikan masa nyantri, ia melanjutkan studi ke Belanda. Awalnya masuk di Universitas Teknik Delft. Namun, tak lama kemudian, ia pindah ke Universitas Leiden—pusat kajian kebudayaan Timur yang prestisius.
Begitu tiba di Leiden, kecerdasannya langsung mencuri perhatian. Salah satu yang terpukau adalah Prof. Dr. Johan Hendrik Kern, orientalis kenamaan yang juga penasihat pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Kern tak hanya mendukung Sosrokartono, tapi juga mendorongnya tampil di panggung internasional. Ia mengusulkan agar Sosrokartono berbicara dalam Kongres Sastra dan Bahasa Belanda ke-25 yang digelar di Gent, Belgia, pada September 1899.
Pidato di Gent: “Bahasa Belanda di Hindia”
Sosrokartono pun naik ke podium. Di hadapan para akademisi dan politikus Eropa, ia membawakan pidato berjudul Het Nederlandsch in Indië—Bahasa Belanda di Hindia.
Ia tidak berbasa-basi. Dalam pidatonya, ia menggugat kebijakan bahasa kolonial yang merendahkan bumiputera. Ia menyentil bahwa Bahasa Belanda hanya diajarkan secara terbatas, hanya untuk kalangan elite, dan digunakan untuk memperkuat kekuasaan kolonial, bukan untuk mencerdaskan rakyat.
Pidato itu membuat riuh. Beberapa menganggapnya pemberani. Beberapa lainnya menilainya lancang.
Tapi dari situlah nama Sosrokartono menanjak. Ia jadi bahan pembicaraan. Ia dikenal sebagai “inlander terpelajar” yang bicara setara di hadapan para tuan kolonial.
Rooseboom dan Ratu Wilhelmina
Ada momen penting lain. Ketika berada dalam masa transisi dari Delft ke Leiden, Sosrokartono sempat bertemu Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Willem Rooseboom. Ia adalah gubernur jenderal pertama yang menjalankan Politik Etis, kebijakan baru dari Kerajaan Belanda di bawah Ratu Wilhelmina.
Banyak kalangan menduga, pertemuan dengan Rooseboom itu pula yang memperkuat posisi Sosrokartono di mata akademisi dan birokrasi Belanda. Ia disebut sebagai “representasi terbaik bumiputera terdidik”.
Sebulan setelah pertemuan itu, ia kembali diminta berpidato di forum ilmiah. Bukan karena garis keturunan, tapi karena kecakapannya yang nyaris langka di antara mahasiswa asing di Eropa saat itu.
Dijegal Snouck, Ditinggal Kartini
Di Leiden, Sosrokartono menyelesaikan studi S-1 dan memperoleh gelar doctorandus. Ia berniat melanjutkan ke jenjang doktoral.
Namun langkah itu mendadak terhenti. Penelitiannya “dibegal secara akademik” oleh tokoh kuat bernama Snouck Hurgronje.
Snouck, yang juga profesor di Leiden, tidak menyukai gagasan-gagasan Sosrokartono. Ia menilai sang pemuda Jawa terlalu berani, terlalu orisinal, dan terlalu sulit dikendalikan.
Sebagai penasihat pemerintah kolonial urusan Islam dan politik Timur, Snouck khawatir. Sosrokartono dianggap berbahaya bila dibiarkan menanjak sebagai tokoh ilmiah dan politik. Penolakan disamarkan dengan alasan akademik, namun intinya jelas: langkah doktoral Sosrokartono dihentikan.
Luka itu makin dalam saat kabar duka datang dari tanah air. Kartini—adik perempuan yang sangat ia sayangi—wafat tahun 1904. Disusul ayahnya, R.M.A.A. Sosroningrat, yang berpulang setahun kemudian.
Sosrokartono tak sempat melihat wajah mereka untuk terakhir kalinya. Sejak berangkat ke Belanda, ia belum pernah pulang.




1 Komentar