Di tengah api Perang Dunia I, Sosrokartono menjadi satu-satunya wartawan yang hadir dalam perundingan damai di Prancis. Ia duduk semeja dengan Hitler. Gajinya setara jenderal. Namanya melintasi zaman.

KOSONGSATU.ID—Setelah gagal meraih gelar doktor akibat dijegal Snouck Hurgronje, dan setelah kehilangan dua orang tersayang—Kartini dan ayahnya—Sosrokartono memilih mengembara. Ia menjelajahi Eropa, berganti-ganti pekerjaan, dan hidup dari keahliannya sebagai seorang poliglot.

Bahasa adalah senjatanya. Ia menguasai 37 bahasa: 17 bahasa Eropa, 9 bahasa Timur, dan 11 bahasa daerah Nusantara. Dari bahasa Latin hingga Basque, dari Jawa hingga Persia. Ia bukan sekadar fasih, tapi mampu menerjemahkan, menulis, dan merangkai makna lintas budaya.

Petualangan itu membawanya ke dunia jurnalistik. Ia mendaftar sebagai wartawan internasional untuk The New York Herald, surat kabar besar asal Amerika Serikat yang kala itu membuka edisi Eropa. Koran ini kelak bergabung dengan The New York Tribune, lalu dikenal sebagai The New York Herald Tribune.

Lolos Ujian Langka

Menjadi wartawan internasional bukan perkara mudah. Pelamar datang dari seluruh dunia. Seleksi dilakukan ketat. Satu ujiannya adalah merangkum sebuah artikel panjang menjadi hanya 30 kata, dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Kandidat lain gagal. Tapi Sosrokartono berhasil. Ia merangkum tulisan itu hanya dalam 27 kata—dan ditulis dalam bahasa Prancis, Inggris, Spanyol, serta Rusia. Hasilnya membuat para editor terpana. Ia langsung diterima.

Perang Dunia I dan Bahasa Basque

Ketika Perang Dunia I pecah pada 1914, Sosrokartono ditugaskan ke berbagai front. Penguasaannya atas bahasa Basque membuatnya sangat berharga. Ia menjadi penerjemah resmi Pasukan Sekutu saat melewati wilayah Basque di perbatasan Spanyol.

Ia melintasi medan perang, mendengar peluru melesat, dan melaporkan peristiwa dengan presisi. Di tengah kebisingan meriam, ia tetap tenang dengan catatan kecil di tangannya.

Namanya melambung. Tak sekadar wartawan. Ia adalah jembatan antarbangsa. Penghubung lintas kepentingan.

Satu Meja dengan Hitler

Puncak karier jurnalistiknya terjadi pada 1918. Saat itu, Perang Dunia I memasuki fase akhir. Perundingan rahasia antara pihak Sekutu dan Jerman digelar di hutan Compiègne, Prancis selatan. Di tempat itulah perjanjian damai disusun.

Seluruh area dijaga ketat. Tak ada wartawan yang diizinkan mendekat. Semua berita diberi embargo. Tapi ada satu pengecualian: Sosrokartono.

Ia diundang masuk ke dalam kereta api tempat negosiasi berlangsung. Duduk satu meja dengan jenderal-jenderal dan diplomat, termasuk seorang tokoh muda Jerman yang kelak menjadi simbol fasisme dunia: Adolf Hitler.

The New York Herald Tribune menjadi satu-satunya media di dunia yang berhasil memuat hasil perundingan itu secara eksklusif. Semua berkat sang wartawan Jawa.

Gaji Setara Jenderal

Pahlawan tak selalu berseragam. Sosrokartono dibayar USD 1.250 per bulan—jumlah fantastis di zamannya, setara gaji jenderal. Data ini dicatat langsung oleh Mohammad Hatta dalam Memoir (1979).

Tapi kekayaan tidak memuaskan jiwanya. Setelah perang usai, Sosrokartono menerima tawaran menjadi ahli bahasa di Kedutaan Prancis di Den Haag. Tak lama kemudian, ia diminta menjadi kepala penerjemah untuk Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations) pada 1919.

Itulah cikal bakal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dan Sosrokartono, seorang anak Jepara, duduk di jantung lembaga dunia, menerjemahkan bahasa-bahasa bumi untuk perdamaian.