Belanda tak hanya menaklukkan wilayah, tapi juga menjajah batin. Snouck Hurgronje menggagas penghapusan aksara lokal demi menundukkan jiwa pribumi melalui bahasa.
KOSONGSATU.ID—Kebijakan Pemerintah Hindia Belanda yang diarsiteki Snouck Hurgronje bukan sekadar dominasi fisik. Ia dirancang untuk “menaklukkan jiwa” masyarakat pribumi. Salah satu taktik utama adalah melikuidasi bahasa dan aksara asli, lalu menggantinya dengan sistem yang didikte Barat.
Setelah Perang Jawa, perubahan besar terjadi dalam sektor pendidikan. Para bangsawan yang sebelumnya dididik oleh ulama dan pemuka agama dipaksa mengikuti kurikulum Barat. Bahasa lokal mulai ditekan, begitu pula aksara-aksara pribumi seperti Jawa dan Pegon.
Puncaknya adalah diberlakukannya ejaan Van Ophuijsen pada 1901. Ejaan ini menggunakan huruf Latin dan sistem ejaan bahasa Belanda, dirancang oleh Charles A. van Ophuijsen. Dengan kebijakan ini, aksara Latin menjadi satu-satunya sistem yang diakui resmi oleh pemerintah kolonial.
Aksara Melayu yang sebelumnya ditulis dengan huruf Jawa atau Pegon perlahan diganti aksara Latin. Institusi pendidikan dan administrasi publik wajib menggunakannya. Aksara lokal hanya dibiarkan hidup dalam ranah terbatas—seperti budaya, surat pribadi, atau adat istiadat.
Prof. George Quinn, pakar bahasa dan sastra Jawa, menyatakan bahwa aksara Jawa ha-na-ca-ra-ka adalah simbol budaya yang berasal dari aksara Palawa. Ia mulai berkembang di era Islamisasi Jawa, khususnya di Kesultanan Mataram. Namun, sejak pengaruh Belanda masuk ke dalam lingkungan keraton, aksara Latin pelan-pelan menggeser dominasi aksara Jawa.
Lama-lama terjadi pergeseran besar. Aksara Latin menjadi alat komunikasi utama masyarakat, sementara aksara Jawa hidup hanya di lingkungan keraton dan acara budaya. Dalam catatan sejarah, aksara Jawa pernah digunakan selama 1.200 tahun, sejak abad ke-8 hingga pertengahan abad ke-20.
Menariknya, aksara Jawa tak hanya digunakan di Jawa. Ia juga menyebar ke wilayah Sunda, Madura, hingga Lombok. Namun semuanya perlahan memudar di bawah tekanan kebijakan kolonial.
Di tangan Snouck Hurgronje, kolonialisme menjadi proyek pendangkalan budaya. Bahasa dan tulisan bukan sekadar alat komunikasi, tapi senjata untuk menundukkan identitas.—bersambung




1 Komentar