Aksara Pegon pernah menyatukan ulama dan pejuang. Bukan sekadar huruf, tapi simbol literasi Islam dan perlawanan budaya terhadap kolonialisme.


KOSONGSATU.ID—Pegon berasal dari huruf Arab yang dimodifikasi. Di pesantren-pesantren salaf, aksara ini menjadi alat utama untuk memahami kitab kuning. Istilah “Pegon” berasal dari kata Jawa “pego”, yang berarti menyimpang—karena tidak sepenuhnya mengikuti kaidah Arab maupun Jawa.

Dengan tanda-tanda khusus, aksara Pegon memudahkan para santri memaknai teks Arab dalam konteks lokal. Sejak abad ke-15, Pegon menjadi bagian penting dari dunia pesantren dan pergerakan Islam di Jawa.

Pada masa penjajahan, aksara ini menjadi simbol perlawanan. Kala masyarakat menganggap aksara Latin sebagai lambang penjajahan, Pegon justru jadi alternatif identitas dan alat komunikasi antar kelompok pejuang dan ulama.

Dalam Seminar Literasi Arab Pegon di Masjid Pathok Plosokuning, Yogyakarta, tahun 2017, Yudian Wahyudi menyebut Pegon sebagai aksara pemersatu antar kesultanan. Pegon bahkan menyetarakan Nusantara dengan kekuatan dunia Islam lain di Timur Tengah dari sisi budaya literasi.

Aksara Pegon tersebar luas di Nusantara: dari Trengganu, Aceh, Riau, Semenanjung Melayu, hingga Thailand Selatan. Di luar Jawa, ia dikenal sebagai Arab Melayu. Namun secara struktur, tak semua orang Arab bisa membacanya.

Beberapa tokoh yang disebut sebagai pencetus Pegon antara lain Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, dan Imam Nawawi Banten. Kesultanan Banten diketahui menggunakan aksara ini dalam dokumen resminya.

Aksara Pegon juga dikenal lewat karya besar: Suluk Sunan Bonang, Hikayat Raja-Raja Pasai, Tafsir Mbah Soleh Darat, dan banyak kitab pesantren lainnya. Salah satu naskah legendaris yang ditulis dengan Pegon adalah “Babad Diponegoro”.

Dalam catatan sejarah, Pegon berfungsi bukan hanya untuk dakwah atau pendidikan. Ia juga digunakan untuk menulis aturan hukum, surat perjanjian, dan administrasi kerajaan.

Aksara Pegon adalah jejak literasi Islam Nusantara yang dibentuk dari pertemuan budaya Arab dan lokal. Di masa kolonial, ia menjadi penanda perlawanan sunyi yang berakar dalam keyakinan dan pengetahuan.bersambung