OPSHID Madura memeriksa status tanah dan kondisi hunian sebelum memilih keluarga Bu Busani.
KOSONGSATU.ID – DPD OPSHID Madura memeriksa kondisi rumah dan status kepemilikan tanah sebelum menetapkan keluarga Busani sebagai penerima Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fathul Mubiin.
Kurniadi, Sekretaris DPD OPSHID Madura, mengatakan verifikasi dilakukan setelah tim menerima informasi awal tentang seorang warga bernama Yuyun di Desa Tebul, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan.
Saat menanyakan informasi itu kepada kepala desa, tim mendapat petunjuk lokasi rumah keluarga tersebut. Kurniadi lalu datang bersama sejumlah pengurus untuk melihat kondisi bangunan secara langsung.
Tim mendapati rumah lama dengan atap bocor, terpal biru sebagai penutup, dan penyangga bambu pada beberapa bagian. Menurut Kurniadi, kondisi bangunan membuat penghuni khawatir ketika hujan dan angin datang.
Pemeriksaan berikutnya menyasar status tanah. Keluarga tidak lagi memiliki dokumen surat tanah karena dokumen tersebut disebut habis terbakar dalam kebakaran yang pernah menimpa keluarga mereka.
Kurniadi kemudian berkoordinasi dengan kepala desa untuk memeriksa catatan kepemilikan tanah di buku desa atau Petok C. Dari pemeriksaan itu, ia menyebut lahan tersebut merupakan warisan orang tua Bu Busani.
“Saya menghadap kepala desa untuk menanyakan surat-surat itu. Dicek di buku desa, ternyata benar tanah itu hak milik Ibu Busani, warisan orang tuanya,” kata Kurniadi saat wawancara di lokasi pada Ahad, 11 Oktober 2026.
Pengurus juga meminta persetujuan keluarga besar untuk menghindari perselisihan di kemudian hari. Kurniadi mengatakan keluarga Bu Busani dan kerabatnya diminta membuat pernyataan mengenai kepemilikan lahan.
Survei bermula dari nama Yuyun
Dari penelusuran tersebut, tim mengetahui bahwa Yuyun adalah anak Bu Busani. Rumah itu ditempati 15 orang, termasuk Bu Busani, suaminya, anak-anak, menantu, dan cucu.
Kurniadi menyebut rumah lama memiliki ukuran sekitar 8 x 5 meter. Di dalamnya terdapat sekat dan ruang yang terbatas, sementara barang-barang keluarga memenuhi sebagian area tempat tinggal.
Bu Sani juga menceritakan bahwa atap yang bocor membuat keluarganya harus menampung air hujan dengan ember. Saat hujan deras, anak-anak berpindah mencari bagian rumah yang tidak terkena air.
Kurdi menyebut keluarga pernah ditawari program bedah rumah dari pemerintah dengan biaya sekitar Rp 20 juta. Keluarga menolak karena rumah akan dibongkar dan mereka khawatir tidak ada yang melanjutkan.
Anak Ibu Busani bahkan sempat marah saat pengurus OPSHID Madura datang bersilaturahmi menyampaikan rencana pembangunan, karena janji sebelumnya tak kunjung terwujud. Sebagian tetangga juga meragukan rencana ini.
Kurniadi mengatakan pengurus kemudian menjelaskan bahwa Rumah Syukur merupakan pembangunan rumah, bukan sekadar perbaikan sebagian bangunan. Ia menunjukkan dokumentasi kegiatan sebelumnya agar keluarga memahami bentuk program tersebut.
Setelah keluarga menyetujui rencana itu dan status tanah ditelusuri, pengurus memulai pekerjaan. Menurut Kurniadi, survei dilakukan pada Sabtu, pembongkaran pada Minggu, dan peletakan batu pertama menyusul pada Senin.
Rangkaian itu menunjukkan bahwa pemilihan penerima tidak hanya berdasarkan kondisi rumah. Tim juga memeriksa lahan dan meminta kesepakatan keluarga agar pembangunan tidak menyisakan persoalan kepemilikan.
“Setelah dibongkar, tembok sampai setinggi ini, dicor pakai besi, tetangga datang melihat. Ternyata betul-betul dibangun,” kata Kurdi.
Menurut dia, Ibu Busani dan keluarga belum mengenal Shiddiqiyyah saat OPSHID datang menawarkan pembangunan.
Empat kamar untuk 15 penghuni
Keluarga meminta rumah baru dengan empat kamar. Kurniadi mengatakan rancangan tersebut disesuaikan dengan banyaknya penghuni, sementara luas tanah membatasi ruang untuk pengembangan bangunan.
Selain kamar, rencana pembangunan mencakup teras depan. Kurniadi menjelaskan teras itu berguna bagi keluarga untuk berkumpul dan menyelenggarakan kegiatan, sesuai kebutuhan mereka.
Bagian kamar mandi lama direncanakan untuk direnovasi, sedangkan dapur akan disesuaikan dengan ruang yang tersedia. Penentuan bagian-bagian itu dilakukan agar rumah dapat dipakai secara fungsional oleh 15 penghuni.
Kurniadi mengatakan tiga tukang dan dua kuli bekerja sehari-hari di lokasi, didampingi relawan. Para relawan membantu pekerjaan lain, termasuk mengangkut material dan mendukung kebutuhan dapur.
Keluarga Bu Busani juga ikut memberi tenaga. Kurniadi menyebut anak-anak di rumah itu tampak seringkali membantu mengangkat bata dan pasir saat pekerjaan berlangsung.
Program Rumah Syukur tersebut dikaitkan OPSHID dengan tasyakkuran Hari Sumpah Pemuda serta 98 tahun lagu kebangsaan Indonesia Raya. Abdul Salam, Ketua DPD OPSHID Madura, menyebut pembangunan sebagai bentuk nyata rasa syukur dan kepedulian.
Wawancara di lokasi berlangsung pada 11 Oktober 2026 ketika pembangunan masih berjalan. Bu Busani berharap rumah selesai sehingga keluarga dapat menempatinya dengan lebih tenang.***




Tinggalkan Balasan