Bertahun-tahun Sani (65) menadah bocor hujan dengan terpal di gubuk 8×5 meter yang dihuni 15 jiwa. Kini, meski matanya nyaris tak melihat, ia meraba dinding Rumah Syukur yang sedang dibangun OPSHID untuk keluarganya.
KOSONGSATU.ID — Tak lama lagi, perempuan lanjut usia itu tak perlu lagi menadah bocor hujan dengan terpal.
Bertahun-tahun hidup di bawah atap reyot, Sani (65) akhirnya bisa bernapas lega. Warga Desa Tepul, Kecamatan Kwanyar, Kabupaten Bangkalan, Madura, ini tak henti-hentinya mengucap syukur.
Ia tak pernah menyangka gubuk rapuh berukuran 8×5 meter yang selama ini dihuninya bersama 14 anggota keluarga lain kini rata dengan tanah. Di atasnya, fondasi kokoh sudah berdiri.
Hidup Sani penuh jalan terjal. Suaminya lumpuh akibat stroke, sementara menantunya pergi begitu saja meninggalkan anak yang baru berusia tujuh hari.
Demi menyambung hidup, Sani membuat pukat atau jala ikan dengan penghasilan yang tak menentu.
“Ini jadinya ya dapat sudah rejeki semacam bintang jatuh di pangkuan saya, Nak,” ucap Sani dengan suara bergetar, mengenang saat Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) datang membawa kabar gembira.
Kondisi fisiknya yang tak lagi sempurna tak menghalangi Sani merasakan kebahagiaan. Mata kirinya nyaris tak bisa melihat, dan mata kanannya mulai buram.
Namun, tangannya tak pernah lepas meraba dinding batu bata yang baru setengah jadi.
Tangis di Tengah Pembangunan
Air mata Sani kerap tumpah saat mendengar suara para relawan yang bekerja di bawah terik matahari. Keterbatasan penglihatan membuatnya hanya bisa meraba dan mendengar.
“Saya itu merasa kasihan, saya nggak bisa ngelihat. Kasihan teman-teman itu panas-panas membangun, siapa saja. Saya ingin tahu,” tuturnya lirih.
Sekretaris DPD OPSHID Madura, Kurdi, menuturkan Sani sering mendekat ke area pembangunan hanya untuk menyentuh dinding rumahnya. Pemandangan itu menyentuh hati para relawan di lapangan.
Sebentar lagi, tak ada lagi rasa takut rumah roboh saat angin kencang menerjang pesisir.
Tak perlu lagi ember atau terpal biru di dalam rumah untuk menampung air hujan, hanya agar cucu-cucunya bisa tidur tanpa kebasahan.
Asa di Balik Keterbatasan
Bagi Sani, Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah Fatchan Mubiina ini bukan sekadar bangunan. Rumah ini adalah penyelamat bagi keluarganya.
Kesengsaraan panjang yang ia rasakan sejak kecil seolah terbayar lunas.
Impiannya sederhana. Ia hanya ingin keluarganya bisa tidur nyenyak.
Meski tak bisa lagi melihat dunia dengan jelas, rasa syukur Sani jauh melampaui tingginya bangunan yang kelak akan menaungi 15 jiwa di keluarganya.
Sebuah kado luar biasa dari kemanusiaan yang nyata.***




Tinggalkan Balasan