Museum Nasional resmi membuka Galeri Prajnaparamita. Arca mahakarya abad ke-13 yang dijuluki “Mona Lisa dari Jawa” ini kini tampil lebih inklusif dan memukau, mengajak pengunjung menyelami keanggunan peradaban masa silam Nusantara.

KOSONGSATU.ID — Suasana Museum Nasional Indonesia di Jakarta Pusat terasa istimewa pada Selasa (13/10). Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan Galeri Prajnaparamita, sebuah ruang pamer khusus yang menampilkan salah satu mahakarya seni rupa paling sempurna peninggalan leluhur Nusantara.

Pembukaan galeri ini sekaligus menandai babak baru dalam upaya mendekatkan kekayaan sejarah kepada publik secara lebih dinamis dan inklusif.

“Mona Lisa van Java” yang Melampaui Zaman

Menteri Kebudayaan Fadli Zon tidak ragu menyebut mahakarya ini sebagai puncak pencapaian artistik dan estetika sejarah bangsa. Ia bahkan menyematkan julukan istimewa bagi arca yang memancarkan kedamaian tersebut: “Mona Lisa dari Jawa” atau Mona Lisa van Java.

Karya ini memiliki nilai historis dan bentuk yang menandingi pesona lukisan ikonik karya Leonardo da Vinci di Museum Louvre, Prancis. Prajnaparamita mewujud dalam bentuk tiga dimensi yang menuntut keahlian memahat tingkat tinggi. Lebih dari itu, usianya jauh melampaui karya sang maestro Renaisans. Jika da Vinci melukis Mona Lisa pada awal abad ke-16 (sekitar 1506–1507), seniman Jawa Kuno telah menciptakan Prajnaparamita pada abad ke-13, atau era keemasan Kerajaan Singasari.

“Artinya, karya ini sekitar 200 hingga 300 tahun lebih tua daripada Mona Lisa. Inilah persembahan Mona Lisa dari Indonesia,” tegas Fadli dalam taklimat media.

Keduanya berbagi kemiripan aura yang memikat. Fadli menyoroti ekspresi wajah sosok perempuan pada arca yang menghadirkan ketenangan, sekaligus memancarkan kesan misterius.

Gurat wajah itu memancing publik untuk bertanya-tanya tentang apa yang tengah berkecamuk di dalam benaknya. Museum Nasional kini menjadikan mahakarya ini sebagai point of interest sekaligus signature.

“Kalau orang datang ke Museum Nasional tetapi belum melihat arca Prajnaparamita, rasanya kunjungan mereka belum lengkap,” tambahnya.

Fasilitas Inklusif dan Pendekatan Digital

Selama ini, arca Dewi Kebijaksanaan tersebut sering tersimpan di ruang tertutup sehingga belum banyak masyarakat yang mengapresiasinya. Merespons hal tersebut, Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB) kini membuka akses seluas-luasnya melalui galeri khusus yang dirancang ramah disabilitas.

Pihak pengelola menyediakan keterangan berhuruf Braille serta miniatur arca yang bisa pengunjung raba. Inisiatif ini memungkinkan penyandang disabilitas netra untuk turut menyelami detail kehalusan seni sang dewi melalui pendekatan sensorik yang inklusif.

Galeri Prajnaparamita juga menyesuaikan diri dengan tren masa kini untuk memikat perhatian Generasi Z. Pihak museum menggunakan tata cahaya dramatis dan teknologi modern. Saat ini, lampu berbentuk bunga lotus telah terpasang sebagai pedestal atau alas yang menyangga arca.

Ke depan, pengelola berencana mengembangkan galeri ini menjadi lebih interaktif lewat pemanfaatan teknologi digital, menjadikan museum sebagai ruang publik yang dinamis dalam merayakan Hari Museum.

Misteri di Balik Ketenangan Sang Dewi Kebijaksanaan

Siapa sebenarnya sosok di balik pahatan batu yang sangat presisi ini? Ditemukan di reruntuhan Cungkup Putri dekat Candi Singasari, Malang, Jawa Timur, arca ini merepresentasikan Bodhisattwadewi atau Dewi Prajnaparamita. Dalam tradisi Buddha, ia melambangkan kesempurnaan kebijaksanaan transendental.

Masyarakat setempat secara turun-temurun meyakini wujud ini sebagai perwujudan anumerta Ken Dedes, Ratu Pertama Singasari. Namun, sebagian sejarawan memiliki pandangan lain dan mengaitkannya dengan Gayatri Rajapatni, istri Raden Wijaya yang menjadi tokoh kunci di balik berdirinya Kemaharajaan Majapahit.

Terlepas dari perdebatan sejarah tersebut, kehalusan teknik pahatannya mengundang decak kagum para arkeolog dunia. Sang dewi duduk bersila sempurna di atas padmasana (takhta teratai). Tangannya membentuk dharmachakra-mudra atau sikap memutar roda dharma.

Pada lengan kirinya, terselip sebatang utpala (teratai biru) yang menopang keropak naskah lontar Prajnaparamita-sutra.

Pakaian kebesarannya, lengkap dengan perhiasan ukiran rumit dan gelung rambut Jatamakuta, sangat kontras dengan raut wajahnya yang memancarkan keteduhan. Sebuah stela berukir dengan halo (lingkaran cahaya) di belakang kepalanya menyempurnakan statusnya sebagai figur suci.

Jejak Panjang Melintasi Benua

Sebelum akhirnya memancarkan kedamaian di lantai dua Gedung Arca Museum Nasional, Prajnaparamita menempuh perjalanan sejarah yang panjang dan berliku melintasi samudra. Kisahnya bermula ketika Asisten Residen Malang, D. Monnereau, menemukan arca ini pada 1818. Ia lalu menghadiahkan mahakarya ini kepada C.G.C. Reinwardt, yang kemudian memboyongnya ke Belanda pada 1820.

Selama lebih dari satu setengah abad, arca sempurna tanpa cacat ini menjadi koleksi kebanggaan Rijksmuseum voor Volkenkunde di Leiden, Belanda. Ia bahkan sempat berkeliling dunia dan memukau para pencinta seni internasional yang memuja kekuatan fisik serta energi dari pahatan khas Jawa Kuno tersebut.

Babak baru dimulai pada 1968. Sebuah komite dari Direktorat Kebudayaan RI di bawah pimpinan Prof. Ida Bagus Mantra memasukkan Prajnaparamita ke dalam daftar artefak yang harus dikembalikan ke Tanah Air. Upaya diplomasi panjang itu berbuah manis pada Januari 1978.

Pemerintah Belanda secara resmi mengembalikan Prajnaparamita, bersama naskah Nagarakrtagama, ke pangkuan Ibu Pertiwi. Kini, kembalinya sang dewi ke ruang pamer utama Museum Nasional mengukuhkan perannya sebagai saksi abadi keagungan peradaban Nusantara.***