Sejak 2019, sebuah komunitas di Kediri rutin berdoa pada malam 1 Oktober. Misinya satu: mengembalikan tanggal gugur Pahlawan Revolusi ke catatan aslinya.

KOSONGSATU.ID – R.M. Kushartono bersama komunitas Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok kembali menggelar doa bagi Pahlawan Revolusi, Kamis (1/10/2026) dini hari. Lewat doa itu, mereka berupaya meluruskan satu tanggal yang telanjur melekat keliru di ingatan publik.

Tanggal yang mereka persoalkan adalah 30 September 1965. Selama ini, banyak orang meyakini para pahlawan gugur pada hari itu, padahal catatan resmi menyebut 1 Oktober 1965 dini hari.

Doa lintas agama tersebut berlangsung di pelataran Rumah Cagar Budaya Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri. Puluhan tokoh masyarakat, budayawan, dan warga lintas komunitas berkumpul melingkar sejak malam.

Upaya ini bukan hal baru bagi mereka. Juwaini dari Dewan Kebudayaan Kabupaten Kediri menyebut Ndalem Pojok konsisten menyuarakan kebenaran sejarah tersebut sejak 2019.

Berangkat dari Nisan Kalibata

Kushartono, yang juga Pengelola Situs Ndalem Pojok sekaligus Ketua Panitia, membawa bukti dari lapangan. Ia mendatangi makam para Pahlawan Revolusi di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, lalu mencatat nisannya satu per satu.

“Seratus persen semua tertulis gugur pada tanggal 1 Oktober 1965. Tidak ada satu pun yang tertulis gugur pada 30 September,” kata Kushartono di hadapan peserta sarasehan.

Argumennya sederhana. Penculikan para perwira tinggi Angkatan Darat berlangsung menjelang subuh, ketika penanggalan sudah berganti ke 1 Oktober 1965.

Catatan itu sejalan dengan profil Pahlawan Revolusi yang dimuat RRI. Tujuh korban di Jakarta diculik pada 1 Oktober 1965 dini hari, lalu jenazahnya ditemukan di sumur tua Lubang Buaya pada 4 Oktober.

Di Yogyakarta, ceritanya sedikit berbeda. Brigjen Katamso dan Kolonel Sugiyono diculik pada 1 Oktober sore, dan menurut catatan Kompas, Katamso meninggal pada 2 Oktober 1965 dini hari. Keduanya dimakamkan di TMP Kusumanegara, bukan Kalibata.

Jarak antara catatan dan ingatan itulah yang ingin mereka jembatani. Peristiwa itu telanjur dikenal sebagai Gerakan 30 September, dan pemerintah pun menempatkan hari berkabung pada tanggal yang sama.

Tahun ini, Kementerian Kebudayaan lewat pedoman Hari Kesaktian Pancasila 2026 mengimbau bendera dikibarkan setengah tiang pada 30 September. Pada 1 Oktober pukul 06.00, bendera kembali berkibar satu tiang penuh.

Dalam peringatan serupa pada 2024, Kushartono juga mengingatkan bahwa Presiden Soekarno menyebut peristiwa itu Gestok, singkatan Gerakan Satu Oktober.

Mengubah Keyakinan Bertahun-tahun

Upaya pelurusan itu mendapat sambutan dari kalangan pendidik. Hendro Wijanarko, guru sejarah sekaligus penulis buku, mengaku sudah membuka kembali dokumen yang ia kaji dan menemukan hasil serupa.

“…Memang betul para pahlawan kita meninggal pada 1 Oktober 1965. Ini sangat menarik untuk kita kaji lebih dalam agar masyarakat luas tidak lagi salah paham mengenai waktu gugurnya para pahlawan,” kata Hendro.

Ketua Jamiyyah Kautsaran Putri Haajarulloh Shiddiqiyyah (JKPHS) Kediri, Erny Nengtiyas, mengaku bertahun-tahun meyakini para pahlawan gugur pada akhir September. Menurutnya, diskusi semacam ini penting bagi generasi muda.

Budayawan sekaligus pegiat seni macapat Kediri, Ki Hada’, mengingatkan agar perbedaan tafsir sejarah tidak merobek persatuan. Kajian harus berjalan utuh, katanya, tetapi pihak yang memegang penanggalan lama tetap layak dihormati.

Kushartono pun menegaskan forum itu tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan pandangan sejarah. Tujuannya membuka ruang kajian berbasis data yang bisa ditelusuri siapa saja.

Menjelang puncak malam, tujuh kali pukulan gong memecah keheningan dan menandai dimulainya doa lintas agama. Pegiat budaya Ki Jeje lalu mengantarkan prolog doa dengan suara bergetar.

“Malam ini kita menyiapkan diri, mengirim doa untuk para Pahlawan Revolusi yang gugur pada tanggal 1 Oktober 1965. Semoga arwah beliau mendapatkan tempat paling layak di sisi-Nya,” ucap Ki Jeje.***