OPSHID menyatakan survei calon penerima Rumah Syukur dilakukan tanpa menjanjikan bantuan. Menurut pengurus, keputusan biasanya disampaikan sekitar dua hari sebelum pembongkaran, meski praktik di daerah beragam.

KOSONGSATU.ID – Disurvei oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID) tidak berarti seseorang pasti mendapat bantuan Rumah Syukur.

“Ketika OPSHID mensurvei calon penerima tidak pernah menjanjikan untuk dibangunkan rumah,” kata pengurus DPP OPSHID bidang Sosial Kemanusiaan, Aria Rahman, dalam tanya jawab dengan Opshidmedia pada 21 Oktober 2023.

Menurut Aria, survei bertujuan menentukan calon yang paling membutuhkan. Keputusan final biasanya baru diberitahukan sekitar dua hari sebelum rumah lama dibongkar.

Ia menyebut empat kriteria: calon penerima merupakan dhuafa, memiliki tanah yang tidak bersengketa, kesulitan mencari nafkah, dan mempunyai riwayat sakit fisik maupun mental.

Lahan disebut harus bersertifikat atas nama calon penerima atau berasal dari warisan maupun hibah, dengan status yang diketahui aparat desa.

Bagaimana survei dilakukan?

Laporan dari sejumlah daerah menunjukkan cara pendekatan yang berbeda.

Di Palembang, tim mendatangi calon penerima tanpa mengungkapkan tujuan survei. Opshidmedia pada 6 Agustus 2024 melaporkan mereka menggunakan alasan bertanya tentang tempat memancing.

Ahmad Nurcahyono dari OPSHID Palembang mengatakan cara itu dipilih agar warga tidak terlalu berharap. Tim biasanya memeriksa dua hingga tiga rumah sebelum menentukan penerima.

Setelah musyawarah, mereka mendatangi keluarga Kariman, berusia 75 tahun, untuk menyampaikan bahwa rumahnya akan dibangun tanpa biaya. Rumah di kawasan 20 Ilir II itu dibuat berbentuk panggung karena lokasinya rawan banjir.

Di Malang Raya, survei dilakukan bersamaan dengan penyaluran santunan. Menurut Opshidmedia pada 5 Oktober 2026, tim mendata kondisi calon penerima tanpa lebih dulu memberitahukan rencana pembangunan.

Salah seorang penerima di Kecamatan Pujon, Achmad Subechi, mengaku terkejut ketika mendapat bantuan.

“Biasanya saya hanya melihat di ponsel ada pembangunan rumah seperti ini,” katanya.

Pendekatan langsung juga dilakukan. Opshidmedia pada 27 Oktober 2025 melaporkan seorang pengurus menanyakan status tanah Didik Sugianto, pedagang es tebu di Sidoarjo, lalu memotret lokasi dan berjanji memberi kabar.

Kapan keluarga diberi tahu?

Keterangan Aria mengenai pemberitahuan sekitar dua hari sebelum pembongkaran belum menjelaskan apakah waktu tersebut berlaku di seluruh daerah.

Di Probolinggo, Opshidmedia pada 7 Oktober 2024 memuat pengakuan Sudarsono bahwa ia baru mengetahui rumah lamanya telah dibongkar setelah pulang berjualan bakso keliling.

“Saya nggak tahu. Saya kerja bakso keliling, lihat rumah, loh kok rumah udah rata?” katanya.

Laporan itu belum menjelaskan siapa dalam keluarga yang menerima pemberitahuan atau memberikan persetujuan sebelum pembongkaran.

Bagaimana dengan calon yang belum terpilih?

Aria mengatakan OPSHID meninjau kondisi ekonomi warga yang mempertanyakan mengapa mereka belum mendapat bantuan. Jika dinilai lebih membutuhkan, mereka dapat dipertimbangkan pada kesempatan berikutnya.

Menurut laporan Opshidmedia pada 1 Oktober 2026, program mencakup survei, pembongkaran, pembangunan, dan pengisian perabot melalui gotong royong.

Namun, laporan-laporan tersebut belum menyertakan jumlah calon yang disurvei, yang akhirnya menerima bantuan, atau yang menolak. Informasi proses seleksi masih terutama berasal dari keterangan pengurus dan media yang berafiliasi dengan OPSHID.***