Snouck tak hanya menyerang aksara, tapi juga menyusun siasat memecah kekuatan umat. Islam dijinakkan, priyayi diganjar gelar, ulama disingkirkan.


KOSONGSATU.ID—Dalam bukunya, Verspreide Geschriften—atau Tulisan yang Terserak—Snouck Hurgronje merancang strategi penaklukan berbasis budaya dan agama. Ia meneliti Aceh secara mendalam untuk mengetahui cara menjinakkan perlawanan masyarakat.

Salah satu hasilnya adalah perubahan besar dalam sistem tulisan. Jika sebelumnya masyarakat Aceh menulis dengan aksara Arab, maka sejak itu tulisan Latin diperkenalkan dan dijadikan standar baru.

Teuku Mansor Leupeung adalah generasi awal yang mengadopsi sistem ini. Karyanya, Hikayat Sanggamara dan adaptasi Robinson Crusoe, menjadi bukti awal roman Aceh beraksara Latin.

Selain menggeser aksara, Snouck juga menyarankan kebijakan yang memisahkan Islam sebagai agama dan Islam sebagai kekuatan politik. Tujuannya untuk memecah kekuatan umat dan memperkuat kontrol kolonial.

Dimulailah proyek sosial-politik kolonial untuk mengangkat elite adat (priyayi) dan menekan kekuatan ulama.

Para bangsawan yang tunduk diganjar gelar mentereng, seperti “khalifatullah”, namun hak-haknya dibatasi. Mereka bahkan dilarang naik haji, agar tak tersambung dengan jaringan intelektual Islam global.

Umat Islam dipisahkan dari pusat kekuasaan. Mereka dikumpulkan dalam enclave khusus, seperti kampung Kauman atau tanah perdikan pesantren. Kawasan-kawasan ini dijaga agar tidak berkembang menjadi kekuatan politik.

Gelar-gelar feodalistik seperti Hamengkubuwono, Pakualam, Pakubuwono, hingga Mangkunegara pun diobral oleh Belanda. Ironisnya, gelar itu diberikan justru saat para penguasa kehilangan kedaulatan atas tanahnya sendiri.

Di tangan Snouck, kolonialisme bukan hanya penjajahan fisik, tapi operasi sistemik untuk melemahkan identitas, budaya, dan perlawanan umat. Aksara diubah, agama dijinakkan, kekuasaan dipecah. Semua demi satu tujuan: menaklukkan jiwa pribumi.—Selesai—