Sampel sedimen memicu bantahan atas danau purba Borobudur. Namun, jurnal terdahulu menyimpan bukti berbeda. Seberapa jauh kesimpulan baru dapat ditarik?
KOSONGSATU.ID — Sekitar 70 persen material yang disebut lempung hitam ternyata berupa pasir. Angka itu mengusik cerita Borobudur yang dibayangkan menyerupai teratai di tengah danau.
Temuan tersebut disampaikan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Eko Yulianto. Ia mempertanyakan tafsir endapan yang selama ini digunakan untuk mendukung keberadaan danau purba.
Namun, di rak jurnal, danau itu belum mengering. Penelitian terdahulu justru menyimpulkan Borobudur berdiri dekat perairan. Perdebatan berlangsung antara bukti yang memberikan jawaban berbeda.
Persoalannya melampaui pemandangan indah masa silam. Tafsir bentang alam menentukan bagaimana sejarah candi dijelaskan kepada pengunjung, dipelajari siswa, dan dikembangkan sebagai wisata pengetahuan.
Kesimpulan bahwa BRIN sudah mematahkan seluruh teori danau karena itu perlu direm. Mengoreksi satu jenis endapan belum otomatis menyelesaikan sejarah sebuah cekungan.
Teratai Memikat, Bukti Mengikat
Gagasan W.O.J. Nieuwenkamp menghubungkan Borobudur dengan gambaran teratai di perairan. Riwayat penerbitannya perlu dibaca cermat sebelum satu tahun ditetapkan sebagai awal perdebatan.
Daftar pustaka artikel dalam The Holocene mencatat tulisan Nieuwenkamp pada 1931/1932. Bahan awal menyebut Het Borobudur Meer pada 1933. Keduanya jangan disamakan tanpa pemeriksaan bibliografi.
Ada pertanyaan yang sering bertumpuk dalam kisah ini. Apakah kawasan Borobudur pernah memiliki danau? Apakah danau masih ada ketika candi dibangun? Apakah pembangun sengaja memilih simbol teratai?
Ketiganya membutuhkan pembuktian berbeda. Endapan dapat menjelaskan lingkungan masa lalu, sedangkan maksud pembangun membutuhkan pembacaan arkeologi dan sejarah yang lebih luas.
Danau yang pernah ada ribuan tahun sebelum candi belum membuktikan bangunan itu dikelilingi air. Sebaliknya, simbol teratai juga tidak dengan sendirinya menggambar garis pantai.
Dalam penelitian 2004, Helmy Murwanto dan koleganya mengambil posisi tegas. Mereka menggunakan data umur serta lingkungan purba untuk mendukung keberadaan danau ketika monumen berdiri.
“Borobudur sengaja berdiri di sisi danau yang sudah ada,” demikian kesimpulan dalam abstrak mereka (terjemahan redaksi).
Artikel Murwanto bersama Y. Gunnell, S. Suharsono, S. Sutikno, dan F. Lavigne itu terbit di The Holocene, April 2004. Kesimpulannya mendukung pembacaan simbol teratai.
Tetapi, “di sisi danau” perlu dibedakan dari “mengapung di tengah danau raksasa”. Pergeseran beberapa kata dapat mengubah hasil penelitian menjadi gambar kartu pos.
Pasir Mengusik Cerita Lama
Pusat Survei Geologi mengumumkan Eko sebagai pembicara Geoseminar Cerita Serbuk Sari pada 12 Maret 2026. Penyelenggaranya ialah Badan Geologi, Kementerian ESDM.
Dalam pemberitaan detikEdu, Eko menjelaskan pemeriksaan ulang terhadap material yang ditafsirkan sebagai lempung hitam. Hasil analisisnya justru menunjukkan dominasi pasir.
“Yang diklaim lempung hitam, sekitar 70 persen justru berupa pasir,” Eko menegaskan, sebagaimana dikutip detikEdu, 21 Maret 2026.
Persentase itu menggambarkan komposisi sampel menurut penjelasannya. Angka tersebut bukan proporsi seluruh lapisan tanah di kawasan Borobudur; jumlah sampel tidak dijelaskan dalam laporan itu.
Eko juga memaparkan kandungan material vulkanik dan respons terhadap magnet. Pengujian yang diberitakan tidak menemukan serbuk sari tumbuhan air, ostrakoda, maupun diatom pada sampel terkait.
Ostrakoda merupakan kelompok krustasea kecil. Diatom ialah mikroalga yang cangkangnya dapat tersimpan dalam sedimen. Jejak keduanya dapat membantu menafsirkan lingkungan pengendapan.
“Ini menunjukkan material tersebut bukan lempung,” Eko menegaskan dalam laporan yang sama.
Bantahan itu penting karena menyasar identitas bukti. Bila lapisan dasarnya keliru dikenali, kesimpulan yang dibangun di atasnya juga harus diperiksa ulang.
Namun, laporan seminar tersebut belum memberikan seluruh rincian yang diperlukan untuk membandingkan penelitian: koordinat, kedalaman, jumlah sampel, hingga kesetaraan lapisan yang diuji.
Tanpa rincian itu, pembaca belum dapat memastikan apakah dua tim memeriksa endapan yang sama. Perbedaan lokasi dan umur lapisan perlu diperiksa sebelum perbedaan hasil dinyatakan sebagai pembatalan.
Jurnal Belum Menutup Danau
Dalam publikasi 2010, C. Gomez dan koleganya juga mendukung keberadaan beberapa generasi danau purba. Mereka mengkaji perkembangan cekungan melalui sejumlah pendekatan geologi.
“Terdapat beberapa generasi danau purba di Cekungan Borobudur,” demikian salah satu temuan dalam abstrak mereka (terjemahan redaksi).
Artikel itu terbit dalam Journal of Volcanology and Geothermal Research, Oktober 2010. Penulis menghubungkan pembentukan banyak danau dengan pembendungan jaringan sungai oleh material vulkanik.
Mereka menyatakan danau termuda menyusut hingga masa sejarah. Kesimpulan tersebut mendukung penelitian terdahulu bahwa Borobudur pernah berdiri di dekat suatu badan air.
Artinya, perdebatan tidak cukup dibingkai sebagai cerita seniman yang akhirnya dikalahkan laboratorium. Dukungan terhadap danau juga berasal dari penelitian ilmiah yang dapat ditelaah.
Murwanto mempertahankan pandangan itu dalam penelitian berikutnya. Universitas Gadjah Mada (UGM) memberitakan penjelasannya saat ujian promosi doktor pada Februari 2015.
“Kedua singkapan tersebut mempunyai jarak sekitar 8 kilometer,” Murwanto menjelaskan, sebagaimana dimuat laman UGM pada 9 Februari 2015.
Singkapan ialah lapisan batuan atau endapan yang terlihat di permukaan. Dalam penjelasannya, sebaran itu digunakan untuk menafsirkan lingkungan danau. Jaraknya bukan ukuran pasti diameter danau.
UGM juga mencatat penjelasan Murwanto bahwa pendangkalan berlangsung berulang. Material vulkanik, proses tektonik, dan gerakan tanah menjadi bagian dari tafsir perubahan bentang alamnya.
Penelitian Murwanto dan Ananta Purwoarminta dalam LIMNOTEK pada 2015 menggunakan survei lapangan, analisis serbuk sari, dan penanggalan radiokarbon untuk merekonstruksi perubahan danau.
Radiokarbon membantu memperkirakan umur bahan organik. Sementara itu, serbuk sari membantu mengenali vegetasi masa lalu. Keduanya harus dibaca bersama posisi sampel dalam susunan endapan.
Cerita Wisata Membutuhkan Catatan Kaki
Perdebatan ini memiliki akibat praktis. Murwanto dan Purwoarminta pada 2019 mengusulkan pemanfaatan sejarah lingkungan Borobudur sebagai tambahan daya tarik wisata berbasis geologi dan arkeologi.
Dalam Indonesian Journal on Geoscience, mereka mengidentifikasi sepuluh lokasi persinggahan. Tujuannya menjelaskan lingkungan purba dan memperluas pengalaman pengunjung di luar monumen.
Di titik itu, ketelitian menjadi urusan publik. Pemandu, pengelola destinasi, dan pembuat materi pendidikan perlu membedakan hasil penelitian, rekonstruksi, serta bagian yang masih diperdebatkan.
Papan informasi dapat menyebut adanya tafsir yang bersaing. Cerita tetap menarik ketika pengunjung mengetahui cara bukti dibaca, termasuk mengapa peneliti dapat menarik kesimpulan berbeda.
Langkah berikutnya memerlukan perbandingan terbuka: lokasi sampel yang setara, susunan lapisan, hasil laboratorium, serta penanggalan. Popularitas lembaga tidak menggantikan kecocokan data.
Di hadapan pengunjung yang bertanya ke mana air danaunya pergi, jawaban pemandu mungkin membutuhkan satu kalimat tambahan: para peneliti masih memperdebatkan jejaknya.***
Daftar Rujukan
- W.O.J. Nieuwenkamp. (1933). Het Borobudur Meer. [Entri bahan awal; judul dan tahun belum terverifikasi dari naskah asli. Artikel 2004 mencatat karya terkait pada 1931/1932.]
- R.W. van Bemmelen. (1952). De Geologische Geschiedenis van Indonesië. [Entri bahan awal; edisi dan bagian yang dirujuk masih perlu diperiksa.]
- G. Thanikaimoni. (1983). Palynological Investigation of the Borobudur Monument. Bulletin de l’École française d’Extrême-Orient, 72, 237–250. [Identitas publikasi diperbaiki mengikuti bibliografi artikel 2004.]
- J.J. Nossin dan C. Voûte. (1986). The Geomorphology of Borobudur Plain, Its Archaeology and History (Central Java, Indonesia). International Institute for Aerospace Survey and Earth Sciences Journal, 4, 280–289. [Nama penulis dan judul diperbaiki mengikuti bibliografi artikel 2004.]
- Helmy Murwanto, dkk. (1996 dan 2001). Penelitian Geologi dan Penanggalan Karbon Endapan Danau Purba Borobudur. Disebut termuat dalam 100 Tahun Pasca Pemugaran Candi Borobudur. [Entri bahan awal; judul, tahun, dan hubungan dengan buku tersebut belum terverifikasi.]
- Eko Yulianto. (2026). Pemaparan dalam Geoseminar 2026 Volume 1: Cerita Serbuk Sari, 12 Maret 2026. Badan Geologi, Kementerian ESDM. [Eko merupakan narasumber dari BRIN; acara seminar tidak otomatis merupakan publikasi bersama BRIN dan Badan Geologi.]
Rujukan Tambahan Terverifikasi
- Murwanto, H., Gunnell, Y., Suharsono, S., Sutikno, S., dan Lavigne, F. (2004). Borobudur Monument (Java, Indonesia) Stood by a Natural Lake: Chronostratigraphic Evidence and Historical Implications. The Holocene, 14(3), 459–463. DOI: 10.1191/0959683604hl721rr.
- Gomez, C., dkk. (2010). Borobudur, a Basin under Volcanic Influence: 361,000 Years BP to Present. Journal of Volcanology and Geothermal Research, 196(3–4), 245–264. DOI: 10.1016/j.jvolgeores.2010.08.001.
- Murwanto, H., dan Purwoarminta, A. (2015). Rekonstruksi Danau Purba Borobudur dengan Pendekatan Spasiotemporal. LIMNOTEK, 22(2), 106–117. DOI: 10.55981/limnotek.2015.13300.
- Murwanto, H., dan Purwoarminta, A. (2019). The Ancient Borobudur Lake, History, and Its Evidences to Develop Geo-archeotourism in Indonesia. Indonesian Journal on Geoscience, 6(1), 103–113. DOI: 10.17014/ijog.6.1.103-113.
- Universitas Gadjah Mada. (9 Februari 2015). Terdapat Danau Purba di Sekitar Candi Borobudur.
- Siti Nur Salsabilah. (21 Maret 2026). Jejak Kawasan Candi Borobudur, Benarkah Pernah Jadi Danau Raksasa?detikEdu.




Tinggalkan Balasan