Bayang-Bayang Sejarah dan Tragedi Karbala
Selain faktor primbon, akar historis turut membentuk kesakralan Suro. Budayawan Ahmad Tohari menjelaskan bahwa orang Jawa menghindari hajatan karena menghormati peristiwa kelam di Padang Karbala yang menewaskan cucu kesayangan Nabi Muhammad SAW, Husain bin Ali, pada 10 Muharram. Hal ini memunculkan empati mendalam yang bermanifestasi dalam larangan bersuka ria.
Di sisi lain, penelitian Zainuri dkk. (2024) mengenai pandangan Ulama NU Lubuklinggau mencatat bahwa sebagian masyarakat meyakini Suro sebagai naas tahun atau pematang tahun—batas rawan musibah. Keyakinan Hindu turut mewarnai hal ini, di mana Suro dianggap dikuasai Batara Kala, sang penguasa waktu dan karma, sehingga masyarakat memilih diam agar terhindar dari nasib buruk.
Menepis Thiyarah: Perayaan Suro dalam Perspektif Islam
Lantas, bagaimana Islam memandang hal ini? Syariat Islam dengan tegas menolak konsep waktu yang membawa sial. Fatawa Dar al-Ifta’ al-Mishriyyah dan hadis riwayat Muslim menegaskan penolakan Islam terhadap thiyarah (anggapan kesialan pada waktu atau benda).
Nabi Muhammad Saw. bahkan sengaja menikahkan putrinya, Sayyidah Fatimah, pada bulan Syawal—bulan yang dianggap sial oleh kaum Jahiliyah—untuk meruntuhkan mitos tak berdasar.
Wakil Ketua Umum MUI, Anwar Abbas, menegaskan bahwa keyakinan membawa sial tersebut murni budaya. Alih-alih bulan duka, Muharram justru memuat banyak peristiwa mulia, termasuk hijrahnya Rasulullah. Islam bahkan menganjurkan umatnya berpuasa pada tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.
Puasa ini selaras dengan kearifan lokal untuk mengekang hawa nafsu, mengendalikan pengeluaran berlebih, dan merenungkan arah kehidupan.
Sebagai penutup, menjaga warisan budaya tidak mengharuskan kita mengunci rapat pintu logika. Keputusan melangsungkan pernikahan pada akhirnya kembali pada keselarasan niat dan kesiapan mental.
Kapan pun pelaksanaannya, selama mendapat restu dan dijalankan dengan niat baik, setiap hari adalah hari baik anugerah Tuhan untuk memulai lembaran baru.




Tinggalkan Balasan