Iran menyebut sebagian besar isu dengan AS telah dibahas. Namun, belum ada dokumen yang diteken dan perbedaan mengenai syarat perdamaian masih terbuka.
KOSONGSATU.ID — Iran mengklaim perundingan untuk mengakhiri konflik dengan Amerika Serikat semakin dekat pada kesepakatan. Namun, hingga Minggu, 14 Juni 2026, belum ada dokumen perdamaian yang ditandatangani kedua negara.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan sebagian besar isu utama telah dibahas. Meski demikian, ia menegaskan penandatanganan Memorandum Islamabad tidak dilakukan pada Minggu.
Perbedaan keterangan dari Teheran dan Washington membuat status kesepakatan masih belum pasti. Amerika Serikat juga membantah sejumlah ketentuan yang sebelumnya beredar dari pihak Iran.
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana menilai pernyataan Iran perlu dibaca secara hati-hati karena belum didukung dokumen yang disetujui kedua pihak.
“Berita tersebut kemungkinan dari pihak Iran, yang oleh Trump dikatakan tidak benar. Kalau benar, bagus sekali buat Iran,” kata Hikmahanto, Minggu, 14 Juni 2026.
Iran Dinilai Mendahului Narasi
Hikmahanto menduga Iran sengaja menyampaikan kemajuan perundingan kepada publik sebelum kesepakatan resmi tercapai. Strategi tersebut dinilai dapat menekan Washington agar tidak mudah menarik diri dari proses diplomasi.
“Jadi saat ini belum ada dokumen yang disepakati oleh kedua belah pihak. Iran sepertinya main kartu seperti Trump. Mengklaim saja sepihak biar nanti dibantah,” ujarnya.
Menurut dia, kedua negara masih mungkin gagal menemukan titik temu. Konflik juga berpotensi terus dipertahankan dalam kondisi menggantung apabila kepentingan utama masing-masing pihak tidak dapat dipertemukan.
“Nah, ini sulit diperkirakan. Bisa jadi tidak ada titik temu. Jadi mereka akan mengambangkan perang,” kata Hikmahanto.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan Iran bukan satu-satunya pihak yang menyampaikan optimisme. Presiden AS Donald Trump dan mediator Pakistan juga menyebut kesepakatan semakin dekat, meski rincian akhirnya masih diperdebatkan.
Sanksi dan Nuklir Jadi Taruhan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan rancangan Memorandum Islamabad ditujukan untuk mengakhiri konflik di berbagai front, termasuk pertempuran di Lebanon.
Rancangan itu juga disebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade terhadap pelabuhan Iran, keringanan sanksi minyak, serta pelepasan sebagian aset Iran yang dibekukan.
Persoalan program nuklir Iran rencananya dibahas dalam perundingan lanjutan selama 60 hari. Amerika Serikat menginginkan pembongkaran program nuklir dan pemindahan persediaan uranium yang diperkaya.
Iran menolak tuntutan tersebut. Teheran ingin mempertahankan persediaan uranium di wilayahnya dalam bentuk yang telah diencerkan.
Araghchi juga mengklaim rancangan dokumen memuat penghormatan Amerika Serikat terhadap kedaulatan Iran serta komitmen untuk tidak saling menyerang dan mencampuri urusan dalam negeri.
“Untuk pertama kalinya dalam 47 tahun, Amerika Serikat secara eksplisit menyatakan bahwa mereka menghormati kedaulatan Republik Islam Iran,” ujar Araghchi.
Perundingan kini berada pada tahap krusial. Kedua pihak telah menunjukkan keinginan mengakhiri konflik, tetapi perdamaian belum dapat dinyatakan tercapai sebelum dokumen ditandatangani dan ketentuannya dijalankan.***




Tinggalkan Balasan