Dari zaman Jayabaya hingga Prabowo kini, mesianisme politik Indonesia terus berulang. Pemimpin berganti, harapan diperbaharui, tapi pola kekecewaannya selalu sama. Ada apa?
KOSONGSATU.ID — Angka itu datang tanpa basa-basi. Survei Indopol pada 9 Juni 2026 menyebut kepuasan publik terhadap Prabowo Subianto 59,75 persen. Anjlok lebih dari 20 poin dibanding Litbang Kompas Januari 2025, yang mencatat 80,9 persen.
Poltracking merilis angka berbeda: 72,2 persen. Selisih itu bercerita tentang publik yang terbelah. Kepercayaan tak lagi bulat. Yang membuat keduanya sepakat hanyalah arahnya: tren sedang tidak baik-baik saja.
Penyebabnya bukan geopolitik. Sekitar 37,48 persen responden Indopol mengaku ekonomi keluarganya memburuk. Hampir separuh — 48,86 persen — merasakan langsung gigitan pelemahan rupiah.
Dan 15,76 persen menyoroti sedikitnya ruang bagi anak muda untuk sekadar mendapat pekerjaan. Bukan krisis baru. Tapi luka lama yang kembali menganga.
Pola ini bukan kekhasan zaman Prabowo. Ia sudah berulang berabad-abad. Akarnya bisa dilacak jauh ke abad ke-12, ke sebuah kerajaan kecil di tepi Sungai Brantas.
Jayabaya dan Janji yang Tak Pernah Kedaluwarsa
Maharaja Jayabaya memerintah Kadiri sekitar 1135–1157. Ramalannya — Jangka Jayabaya — dilestarikan turun-temurun bukan sebagai arsip, melainkan sebagai pegangan hidup.
Yang paling tahan zaman adalah ramalan tentang Ratu Adil. Prediksi tentang sosok pemimpin bijaksana yang akan muncul, memiliki kekuatan besar, dan menyatukan rakyat yang terpecah.
Konsep ini bukan dongeng. Ia hidup. Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Megawati — masing-masing menjadi tumpuan harapan, dan oleh pendukungnya dianggap sebagai penjelmaan Ratu Adil.
Setiap pergantian pemimpin membawa gelombang baru harapan mesianik. Dan setiap gelombang itu, tanpa kecuali, akhirnya surut.
Hampir seabad setelah Jayabaya, Ronggowarsito menulis Serat Kalatidha — cermin paling jujur atas fenomena ini. “Kalatidha” berarti “zaman keraguan”. Masa suram di mana nilai-nilai luhur tak lagi punya tempat berdiri.




Tinggalkan Balasan