Di saat utang pinjaman online menembus Rp100 triliun dan daya beli kelas menengah terjun, sistem keuangan komunal Nusantara justru menawarkan jawaban yang pernah terbukti bekerja selama ratusan tahun — tanpa bunga, tanpa ancaman.

KOSONGSATU.ID – Di tanah Batak, sebelum ada bank dan jauh sebelum ada aplikasi di ponsel, masyarakat punya caranya sendiri mengatasi masalah uang: sijula-jula — arisan bergilir berupa uang, beras, dan daging yang diputar di antara anggota komunitas. Tidak ada bunga. Tidak ada penagih. Yang menjadi jaminan hanya satu hal: nama baik di hadapan sesama.

Hari ini, sistem itu terasa seperti barang antik. Padahal masalah yang ia selesaikan tidak kemana-mana — bahkan makin parah.

Krisis yang Tidak Bisa Lagi Diabaikan

Analis pasar dan pelaku perbankan menilai daya beli masyarakat tidak membaik sepanjang 2025, dan proyeksi untuk 2026 belum bisa kembali normal. Sinyal paling kasatmata: masyarakat beralih ke produk ukuran saset — sampo, deterjen — sebagai strategi berhemat sehari-hari.

Di balik pergeseran kecil itu tersimpan angka yang lebih besar. Jumlah kelas menengah Indonesia turun lebih dalam di 2025, sementara kelompok calon kelas menengah — mereka yang belum mapan namun belum jatuh miskin — membengkak menjadi 142 juta orang, setara 50,4 persen dari total populasi.

Ke mana mereka pergi saat kepepet? Hingga Februari 2026, total utang pinjaman online masyarakat Indonesia mencapai [Rp100,69 triliun], tumbuh 25,75 persen secara tahunan. Angka itu bukan statistik semata — ia adalah cermin dari jutaan keputusan darurat yang dibuat orang-orang tanpa pilihan lain.

Apa yang Dulu Menggantikan Pinjol

Jula-jula adalah sistem arisan yang sudah lama dipraktikkan masyarakat Batak di Tapanuli, dirancang sebagai cara komunal mengatasi kebutuhan modal besar — dari membeli tanah hingga membangun rumah. Mekanismenya sederhana: sejumlah orang menyetorkan iuran yang sama setiap periode; satu anggota menerima total dana secara bergiliran. Tidak ada pihak yang lebih diuntungkan. Tidak ada bunga berbunga.