Analis geopolitik Prof Jiang Xueqin menilai Iran memiliki peluang besar mengalahkan Amerika Serikat melalui perang asimetris.
KOSONGSATU.ID – Prof Jiang Xueqin, analis geopolitik terkemuka, menilai Iran memegang peluang besar untuk menumbangkan AS jika konflik berkepanjangan. Keunggulan Teheran tidak hanya pada kekuatan militer konvensional, tetapi juga posisi geografis strategis di kawasan Teluk dan kemampuan mengeksekusi perang asimetris.
Dalam analisis terbaru di kanal YouTube pribadinya, Kamis (5/3/2026), Jiang menjelaskan bahwa Iran cerdik memanfaatkan taktik berbiaya rendah untuk menguras sumber daya AS secara perlahan. Taktik ini menjadi senjata utama menghadapi teknologi militer Washington yang sangat mahal.
“Iran dapat memanfaatkan strategi perang biaya rendah untuk melemahkan kekuatan Amerika Serikat yang jauh lebih mahal,” ujar Jiang.
Ia menyoroti jomplangnya perbandingan biaya produksi senjata. Iran gencar meluncurkan drone dan rudal berbiaya produksi rendah, sementara AS harus merespons menggunakan sistem pertahanan udara bernilai fantastis.
“Drone dan rudal Iran bisa menelan biaya sekitar puluhan ribu dolar, sementara interceptor Amerika bisa bernilai jutaan dolar. Dalam perang jangka panjang, ini bisa menguras persenjataan Amerika,” terangnya.
Efek Domino: Runtuhnya Era Petrodolar
Kekalahan AS di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada reputasi militer, tetapi juga berpotensi menciptakan gempa ekonomi global. Jiang memprediksi kemunduran Washington dapat menghancurkan dominasi sistem petrodolar, yakni perdagangan minyak dunia yang selama ini bertumpu pada dolar AS.
“Sebuah kekalahan Amerika dapat mengakhiri era petrodolar dan mempercepat perubahan menuju tatanan dunia multipolar,” tegas Jiang.
Dalam skenario hilangnya cengkeraman AS, negara-negara besar pesaing seperti China dan Rusia akan langsung mengambil celah. Keduanya berpotensi besar meraup pengaruh geopolitik lebih luas di kancah internasional.
Pelajaran dari Sejarah
Jiang mengajak publik melihat pola sejarah, di mana banyak negara adidaya runtuh karena terlalu percaya diri saat memasuki medan pertempuran yang pelik. Konflik melawan Iran berisiko menjadi jebakan mematikan.
Invasi dapat berubah menjadi perang yang sangat melelahkan dan mahal. AS harus menghadapi musuh dengan benteng pertahanan alami dari letak geografis yang sulit ditembus.
Arah dan hasil akhir konflik masih bergantung pada dinamika eskalasi di lapangan serta sejauh mana kekuatan global lain bersedia turun tangan. Namun analisis Jiang memberikan sudut pandang tajam: sistem persenjataan mahal dan canggih belum tentu menjamin kemenangan jika harus menghadapi strategi asimetris yang cerdik dan tak kenal lelah.***





Tinggalkan Balasan