Intelijen Iran dilaporkan memanfaatkan celah keamanan roaming internasional dan data iklan digital untuk melacak pergerakan personel militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
KOSONGSATU.ID – Peneliti senior lembaga pengawas keamanan siber Citizen Lab, Gary Miller, mengonfirmasi bahwa intelijen Iran menjebol jaringan seluler di seantero Timur Tengah. Peretasan ini bertujuan melacak posisi koordinat personel militer dan kontraktor Amerika Serikat di wilayah tersebut.
Kabar ini pertama kali diungkap dalam laporan Financial Times yang merujuk pada data penelitian Mobile Surveillance Monitor. Aksi mata-mata digital ini dilaporkan memicu kepanikan di kalangan anggota parlemen di Washington.
Menurut Techcrunch pada Kamis, 16 Juli 2026, operasi ini mampu mengidentifikasi lokasi ponsel personel Amerika di sejumlah pangkalan dan hotel di Irak, Bahrain, serta negara Timur Tengah lainnya. Data lokasi tersebut dimanfaatkan untuk mendukung penentuan target serangan.
Sebelumnya, operasi siber ini sudah berjalan beberapa pekan sebelum pasukan Amerika Serikat dan Israel menggempur Iran pada akhir Februari. Penyusupan terus berlanjut meski Teheran telah melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak ke pangkalan Amerika.
Eksploitasi Protokol SS7
Ihwal metode peretasan, Iran mengeksploitasi kelemahan pada Signaling System 7 atau SS7. Protokol telekomunikasi ini digunakan operator seluler untuk menghubungkan panggilan suara, pesan singkat, dan layanan roaming lintas negara.
Sistem SS7 yang dibangun sejak era 1970-an ini banyak digunakan pada jaringan 2G dan 3G. Kerentanan ini membuat manipulasi perkiraan lokasi pengguna terlacak secara akurat tanpa disadari pemilik perangkat, tanpa perlu memasang perangkat lunak jahat (malware).
Selain itu, agen yang terafiliasi dengan Iran turut memanfaatkan basis data iklan digital komersial. Data yang dijual bebas ini sengaja digunakan untuk memantau pergerakan perangkat seluler, termasuk di wilayah Kurdistan, Irak.
Hingga berita ini ditulis, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi mengenai tudingan tersebut. Pemerintah Amerika Serikat juga belum menyampaikan komentar publik terkait eksploitasi SS7 ini.




Tinggalkan Balasan