Snouck Hurgronje secara sembrono dianggap sebagai pencerah pemikiran Islam. Tapi banyak studi membuktikan: ia justru pencabut akar spiritual Nusantara yang mengacaukan kesadaran sejarah bangsa ini.

KOSONGSATU.ID—Cristiaan Snouck Hurgronje sering dielu-elukan sebagai “intelektual besar” yang berjasa memahami dunia Islam di Hindia Belanda. Ia disebut-sebut sebagai peneliti ulung, akademisi teladan, dan ahli bahasa yang membuka cakrawala modern dalam studi keislaman.

Namun, di balik sanjungan itu, tersembunyi ironi besar yang jarang dibongkar: Snouck bukan pencerah, tapi pemusnah.

Ia bukan penyambung nalar, melainkan pemutus akar. Banyak studi—yang sayangnya jarang dipublikasikan di ruang publik—justru menegaskan bahwa Snouck adalah otak kolonialisme yang mencabik-cabik sejarah spiritual bangsa.

Mengaburkan Sejarah

Tuduhan ini bukan tanpa dasar. Sejarawan Ahmad Baso dalam bukunya Islam Pasca-Kolonial (2005) menegaskan bahwa penjajahan di era modern tak lagi memakai rantai dan senapan. Ia bekerja lewat narasi.

Kolonialisme hadir dalam bentuk baru: mengaburkan sejarah, memalsukan masa lalu, dan memutus hubungan masyarakat dengan akar budayanya. “Penjajahan pasca-kolonial berlangsung melalui propaganda sejarah yang sistematis dan berkelanjutan,” tulis Baso dalam bukunya.

Pandangan Baso memperkuat tesis Juri Lina dalam Architect of Deception: Secret Story of Freemasonry.

Menurut Lina, ada tiga cara utama untuk menjajah sebuah bangsa.

Pertama, kaburkan sejarahnya.

Kedua, hancurkan bukti-bukti sejarah hingga tak bisa lagi diteliti.

Ketiga, putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya dengan menyebarkan anggapan bahwa leluhur mereka bodoh dan primitif.

Snouck melakukan semuanya sekaligus—menggunakan berbagai strategi.

Efek strategi itu terlihat jelas di Indonesia. Mayoritas masyarakat Muslim Nusantara kehilangan konektivitas dengan sejarahnya sendiri.

Mereka tak lagi tahu dari mana datangnya ajaran yang mereka peluk. Mereka limbung, gamang, dan akhirnya mencari pegangan dari peradaban lain yang justru asing bagi jati dirinya.

Pura-pura Menjadi ‘Penolong’

Dalam kondisi seperti ini, Barat masuk sebagai “penolong”. Bukan untuk memulihkan akar sejarah yang hilang, tapi justru menanamkan sistem berpikir dan budaya baru yang tak punya kaitan dengan akar lokal.

Dampaknya fatal. Masyarakat kehilangan arah. Warisan spiritual Nusantara yang dulu berakar kuat dalam tradisi Islam sufistik, toleran, dan membumi, perlahan dilupakan. Sebagai gantinya, tumbuhlah pola pikir asing yang memuja modernitas tanpa konteks, dan menolak warisan leluhur dengan anggapan sebagai sesuatu yang kolot dan irasional.

Yang lebih menyakitkan, proses pencabutan akar sejarah ini dilakukan secara rapi dan ilmiah. Pengetahuan dibingkai ulang. Sejarah ditulis ulang. Dan siapa yang memegang kendali atas penulisan itu? Ya, Snouck dan kolega-koleganya.

Kini, kita mewarisi sebuah bangsa yang besar dalam potensi, tapi kecil dalam kesadaran sejarah. Kita diajari memuja leluhur bangsa lain, tapi lupa pada kejayaan nenek moyang sendiri. Kita disuruh membanggakan akal budi Barat, tapi mencibir warisan lokal sebagai tahayul dan bidah.

Inilah jejak panjang proyek penghapusan ingatan bangsa. Dan Snouck Hurgronje adalah arsitek utamanya.—bersambung