Ia menyamar jadi Muslim, masuk ke jantung Islam Nusantara, dan menyusun strategi penghancuran lewat agama. Inilah warisan Snouck yang masih terasa hingga kini.


KOSONGSATU.ID—Cristiaan Snouck Hurgronje lahir di Oosterhout, Belanda, 8 Februari 1857. Ia besar di keluarga Kristen Protestan taat dan menempuh studi teologi di Universitas Leiden.

Tahun 1880, ia meraih gelar doktor dengan disertasi tentang ritual haji, Het Mekkaansche feest. Tapi perjalanan akademiknya bukan sekadar ilmiah. Ia punya misi politik yang jauh lebih besar: menjinakkan Islam di tanah jajahan.

Dengan restu Pemerintah Belanda dan bantuan Gubernur Ottoman di Jeddah, Snouck menyusup ke Mekkah pada 1885. Di sana ia mempelajari Islam, belajar bahasa Arab dan Melayu, bahkan pura-pura masuk Islam.

Ia menyebut dirinya Abdul Gafar. Tap,i dalam suratnya kepada kolega di Belanda, ia terang-terangan mengaku menyamar demi misi kolonial.

Empat tahun kemudian, Snouck dikirim ke Hindia Belanda. Ia menjelajahi Jawa dan menyelidiki penyebaran Islam. Laporannya membuka mata Pemerintah Kolonial: kekuatan perlawanan rakyat ternyata bersumber dari ulama dan ajaran Islam lokal.

Pada 1891, Snouck diterjunkan ke Aceh—wilayah paling keras kepala melawan Belanda. Ia menyamar sebagai ulama, tinggal di Peukan Aceh, dan menulis lebih dari 1.400 laporan.

Ia menyimpulkan bahwa Belanda tak akan bisa menaklukkan Aceh hanya dengan senjata. Yang harus ditaklukkan adalah pengaruh ulama.

Laporannya yang paling terkenal, Atjeh Verslag (1892), menjadi dasar strategi militer Belanda. Tak lama kemudian, Kesultanan Aceh jatuh pada 1903. Tapi bukan hanya Aceh yang hancur—yang turut digerus adalah struktur sosial Islam Nusantara.

Snouck menyadari bahwa Islam di Indonesia berbeda dari Arab. Di sini, Islam tumbuh dalam balutan budaya, melalui jalur tasawuf, dan selaras dengan tradisi lokal. Karena itu, Snouck menyarankan strategi adu domba: pecah belah umat Islam, pisahkan yang moderat dan yang keras, lalu dorong yang puritan untuk membungkam Islam kultural.

Inilah akar dari menguatnya kelompok Salafi-Wahabi di Nusantara. Mereka datang bukan sekadar membawa dakwah, tapi juga membawa agenda kolonial yang diwariskan Snouck: hancurkan Islam lokal yang inklusif, ganti dengan Islam skriptural yang kaku.

Dampaknya terus terasa. Warisan spiritual Wali Songo dicap syirik. Tradisi lokal dianggap bidah. Bahkan ada yang menyebut para wali hanyalah mitos. Umat tercerabut dari akar budayanya sendiri.

Kini, warisan Snouck hidup dalam bentuk lain: umat yang saling curiga, tercerai-berai, dan mudah diadu. Dan tragisnya, banyak yang masih menyebut Snouck sebagai “intelektual besar yang berjasa.”

Padahal, ‘jasa’ terbesarnya adalah membuat umat Muslim Nusantara lupa siapa dirinya.—Selesai


  • Ikuti terus ulasan kosongsatu.id terkait upaya-upaya penghapusan sejarah Nusantara. Sudah cukup kita dikelabui selama berabad-abad. Saatnya kita sadar dan bangga dengan kebesaran leluhur kita!