Barat justru menjaga warisan leluhur mereka. Sementara kita, diwarisi reruntuhan dan dilucuti dari sejarah peradaban yang pernah besar. Dan keterputusan inilah warisan terbesar Snouck Hurgronje untuk kita.
KOSONGSATU.ID—Fenomena terputusnya koneksi bangsa-bangsa Asia dan Afrika—termasuk Nusantara—dengan sejarah masa lalunya, bukan hal kebetulan. Ini adalah buah dari proyek kolonial yang sistematis.
Yang tersisa dari masa silam kita hanya reruntuhan candi dan artefak tak bernama. Sementara narasi tentangnya pun dibingkai oleh tafsir kolonial.
Bandingkan dengan Eropa. Di sana, rumah penduduk dan kastil-kastil dari abad ke-5 Masehi masih berdiri kokoh. Mereka memelihara masa lalunya dengan bangga.
Mereka menjadikannya inspirasi untuk membangun masa depan. Sebaliknya, di negeri-negeri jajahan, sejarah dilucuti, bukti-buktinya dihancurkan, dan narasinya dipalsukan.
Juri Lina, dalam Architect of Deception, menjelaskan bahwa para elite Barat masih terkoneksi dengan ajaran kuno. Tarekat-tarekat seperti Freemasonry, Rosicrucian, hingga Illuminati, masih menjalankan ritual-ritual spiritual warisan Mesir Kuno, Kabbalah, Hindu, dan Buddha—yang semuanya berasal dari Timur. Mereka menghormati leluhur, bahkan leluhur bangsa jajahan.
Inilah ironi besar: Barat mencuri ajaran kuno dari timur, lalu menjadikannya sumber kekuatan. Sementara kita, pewaris sah kebijaksanaan Timur itu, justru diputus dari akar sejarah dan spiritualitas sendiri.
Bahkan karya-karya agung peninggalan leluhur Nusantara seperti Negarakertagama dan Sutasoma, kini justru disimpan rapi di Perpustakaan Leiden, Belanda.
Ironisnya, naskah yang ditulis Empu Prapanca pada abad ke-14 itu dijadikan referensi hukum oleh Belanda dalam membangun sistem kenegaraannya. Sementara orang Indonesia sendiri nyaris tak tahu apa isinya.
Ahmad Baso menyebut ini sebagai bentuk pengingkaran sejarah yang disengaja. Proyek ini menciptakan bangsa yang lupa pada jati dirinya. Ketika ingatan historis bangsa lemah, rasa bangga pada peradaban pun memudar. Dan ketika kebanggaan itu menghilang, datanglah bangsa lain mengambil alih semua.
Dengan kondisi seperti itu, tak mengherankan jika masyarakat kita kini tercerabut dari akar. Tidak tahu asal-usulnya. Tidak paham warisannya. Dan akhirnya mengadopsi identitas dari luar, hanya karena merasa warisan sendiri tak cukup membanggakan.
Padahal, dulu, Nusantara dikenal sebagai pusat spiritual dan intelektual. Tapi kini, peninggalannya diasingkan. Kitab sucinya dikunci di luar negeri. Dan artefak sejarahnya dibungkam dengan narasi “masa lalu yang gelap dan primitif.”
Kita diwarisi reruntuhan, sementara mereka—para penjajah—memanen kejayaan dari masa lalu kita yang dicuri.
Inilah wajah lain dari penjajahan. Bukan lagi soal senjata, tapi soal siapa yang menulis masa lalu. Dan lagi-lagi, Snouck Hurgronje adalah bagian dari proyek besar ini.—bersambung




1 Komentar