Belanda sadar pesantren jadi jantung perlawanan. Maka, Snouck Hurgronje tawarkan cara baru: lawan pesantren dengan sekolah Barat—berisi ilmu sekuler, bebas agama, dan pro-kolonial.

KOSONGSATU.ID—Cristiaan Snouck Hurgronje bukan sekadar orientalis, ia dalang kebijakan kolonial yang menyusup halus ke dalam dunia pendidikan Nusantara. Strategi utamanya bukan membungkam suara azan atau melarang masjid, tetapi melemahkan pendidikan Islam dengan mendirikan sekolah-sekolah modern ala Eropa.

Dalam buku Politik Islam Hindia Belanda, Aqib Suminto mencatat bahwa Snouck menyarankan westernisasi elite pribumi melalui pendidikan. Ia ingin generasi baru menjauh dari Islam—bukan dengan paksaan, tapi lewat kurikulum dan nilai-nilai Barat.

Snouck menilai pesantren sebagai sumber ancaman. Di sinilah ruh perlawanan tumbuh.

Dalam catatannya, sebagaimaba disalin oleh Aqib Suminto, Snouck menyebut bahwa ritual keagamaan masyarakat Muslim tak perlu diganggu. Tapi, pendidikan Islam, terutama di pesantren, harus dipantau ketat. Sebab dari sinilah ide-ide perlawanan lahir.

Belanda melaksanakan ide itu secara sistematis. Lewat kurikulum sekolah baru, mereka menyisipkan sejarah versi kolonial, menghapus tokoh Islam dari narasi, dan membentuk cara berpikir baru yang lebih rasional, sekuler, dan tunduk pada kekuasaan.

Dalam Bulan Sabit dan Matahari Terbit, Harry J. Benda menulis bahwa Belanda meyakini pendidikan Islam akan tertinggal dan tergeser bila dihadapkan dengan sistem sekolah modern. Sekolah inilah yang kemudian menghasilkan birokrat yang loyal pada Belanda.

Namun strategi ini lahir dari trauma. Perang Jawa (1825–1830) di bawah Pangeran Diponegoro jadi titik balik.

Belanda sadar kekuatan Islam—terutama yang ditanamkan lewat pesantren—mampu menggoyang kolonialisme. Maka, alih-alih memberangus agama secara terang-terangan, Snouck mendorong agar Islam dijinakkan melalui pendidikan.

Sekolah Barat menjadi alat. Tidak mengajarkan fikih atau tauhid, tapi ilmu ukur, tata negara, dan bahasa Belanda. Hasilnya? Generasi yang bisa kerja di kantor Belanda, tapi tercerabut dari akar agamanya.

Namun, dampak dari proyek ini lebih luas. Sekolah Barat berhasil menciptakan kelas sosial baru di masyarakat—kaum elite berpendidikan Barat yang tak lagi mengindahkan otoritas ulama. Sementara pesantren dituduh kolot, fanatik, dan tak relevan.

Strategi ini berjalan mulus hingga kini. Sekolah modern menjadi arus utama. Pesantren tersudut, walau tetap bertahan. Tapi benih sekularisme yang ditanam Snouck sudah tumbuh subur. Kita hidup dalam warisan kolonial yang rapi—lewat bangku sekolah. bersambung