Perjalanan menuju Kasepuhan Gelar Alam bukan sekadar menembus hutan dan tanjakan, melainkan ujian kesabaran—fisik, mental, dan batin—yang oleh para penjelajah disebut dengan satu istilah sakral: naik haji.
KOSONGSATU.ID—Di kalangan adventure rider dan anak trail, frasa itu bukan metafora kosong. Jalur menuju Kasepuhan Gelar Alam di Cisolok, Sukabumi, memang menuntut semacam kepasrahan total. Seperti ibadah, ia meminta kesiapan raga, kejernihan kepala, dan keteguhan niat—bahwa tujuan akhirnya bukan semata tiba, melainkan memahami.
Gelar Alam terletak di perbatasan Sukabumi dan Lebak, bersisian dengan kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Di sanalah Abah Ugi Sugiana Rakasiwi—generasi ke-40 garis kasepuhan—menetap, menjaga denyut adat yang berakar sejak masa Kerajaan Sunda kuno. Ia adalah penerus Abah Anom, leluhur yang menata tradisi kasepuhan berabad-abad lalu.
Jalan yang Menguji Niat
Tak ada jalur ramah menuju Gelar Alam. Jalanannya berbatu, disusun dari bongkah sebesar batok kelapa, dengan kemiringan lebih dari 30 derajat. Aspal lama yang dulu membalut jalur ini telah mengelupas, tergerus hujan dan aliran air karena tak pernah dilengkapi selokan. Saat hujan turun, jalan berubah menjadi sungai kecil yang licin dan tak kenal kompromi.
Dari Desa Sirnaresmi, perjalanan masih memakan waktu hingga tiga jam. Jaraknya sekitar 20 kilometer, namun medan membuat setiap meter terasa panjang. Mobil SUV 4×4, motor trail, atau motor bergigi adalah pilihan paling rasional. Motor matik? Lebih bijak ditinggalkan. Risiko rem blong dan kampas ganda terbakar bukan sekadar ancaman teoritis.
Penduduk lokal menawarkan alternatif: sewa pikap pulang-pergi dengan tarif Rp600–700 ribu, atau ojek dengan ongkos sekitar Rp150 ribu sekali jalan. Apa pun modanya, satu syarat mutlak: pengemudi harus paham medan dan punya nyali.
Sepanjang jalur, fokus tak boleh lengah. Sedikit salah mengatur gas di tanjakan curam bisa membuat kendaraan terpental. Di kiri-kanan, tebing dan jurang mengintai tanpa pagar. Namun di sela ketegangan itu, cakrawala perbukitan terbuka—hamparan hijau Gunung Halimun yang seolah mengimbangi kerasnya jalan dengan ketenangan visual.
Ziarah Budaya, Bukan Wisata Biasa
Gelar Alam kerap disebut “haji budaya”. Bukan karena ia menggantikan rukun Islam kelima, melainkan karena maknanya sebagai perjalanan transformasi. Di sini, perjalanan fisik berkelindan dengan perenungan batin.
Pemikiran Imam al-Ghazali terasa relevan. Dalam Ihya’ Ulum al-Din, ia menegaskan bahwa esensi haji bukan pada ritual semata, melainkan perubahan sikap setelahnya: kerendahan hati, kepedulian sosial, dan pelepasan dari ketergantungan duniawi. Di Gelar Alam, gagasan itu menemukan padanannya dalam relasi manusia dengan alam.
Warga kasepuhan hidup dengan ajaran Pancer Pangawinan—falsafah keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Mereka tidak menaklukkan hutan, melainkan memeliharanya. Padi sawah dan padi huma ditanam dari benih lokal warisan leluhur. Hutan menjadi ruang hidup bersama: tempat mencari buah, obat, dan kayu bakar secukupnya.

Perpindahan kampung gede dari Ciptarasa ke Ciptagelar pada 2001, lalu ke Gelar Alam pada 2021, dimaknai sebagai peralihan simbolik: dari ciptaan manusia menuju ciptaan semesta. Perubahan bukan perpecahan, melainkan langkah menuju keselarasan yang lebih utuh.
Tiga Jalur, Tiga Tingkat Kesabaran
Ada tiga jalur utama menuju Gelar Alam. Jalur pertama—sekitar 28 kilometer dari Pelabuhan Ratu menuju Sukawayana—dikenal paling eksotis. Sembilan kilometer di antaranya membelah hutan, dibangun gotong royong: tiap warga satu meter jalan, satu cangkul, tiga hari kerja.
Jalur kedua melewati Sirnaresmi sejauh kurang lebih 17 kilometer, dengan kondisi paling menantang secara teknis. Jalur ketiga dari Cicadas–Cikadu–Gunung Bongkok di wilayah Lebak adalah yang terpanjang, namun relatif lebih ramah karena sebagian sudah beraspal—meski 10 kilometer terakhir tetap berbatu.
Musim kemarau, terutama Juli–Agustus, adalah waktu paling ideal. BBM harus terisi penuh sebelum masuk Sirnaresmi. Kehabisan bensin di tengah hutan bukan pengalaman spiritual yang disarankan.
Pulang dengan “Mabrur”
Enam abad berlalu, namun Gelar Alam tetap teguh menjaga ritme hidupnya. Ia bukan sekadar destinasi, melainkan cermin tentang bagaimana manusia Nusantara pernah—dan masih bisa—hidup selaras dengan alam.
Barangkali itulah “mabrur” versi Gelar Alam: pulang dengan kesadaran baru, bahwa perjalanan terbaik bukan yang menaklukkan jarak, melainkan yang menghaluskan cara kita memandang dunia.***





Tinggalkan Balasan