Komunitas adat Ciptagelar mempertahankan sistem kepemimpinan Abah dan Rorokan sebagai warisan leluhur.

KOSONGSATU.ID—Kata “kasepuhan berakar dari kata “sepuh—yang berarti “tua”—dan menyiratkan tempat tinggal para sesepuh sekaligus tatanan kepemimpinan adat yang diwariskan dari nenek moyang.

Di Kasepuhan Gelar Alam, makna itu hadir bukan hanya sebagai istilah, melainkan sebagai cara hidup yang membingkai hubungan manusia dengan alam, tradisi, dan spiritualitas.

Jejak Perpindahan dan Wangsit Leluhur

Kasepuhan Gelar Alam bermula dari kerajaan lama yang dipimpin Prabu Siliwangi di Cipatat, Bogor. Para pemuka adat kerajaan itu berpencar dan membangun kasepuhan baru sesuai petunjuk leluhur.

Perjalanan panjang itu menapaki Cipatat, Lebak Laran, Lebak Binang, Telaga, Tegalombo, Bojong, Pasir Jinjing, Lingarjati, Ciptarasa, hingga akhirnya menetap di Ciptagelar.

Hingga kini, masyarakat Gelar Alam masih menjalankan tradisi ngalalakon—berpindah permukiman berdasarkan wangsit yang diterima Abah.

Perpindahan ini dipahami sebagai proses kembali ke titik nadir peradaban sekaligus upaya meningkatkan kualitas permukiman berikutnya.

“Wangsit adalah bagian dari kebo mulih pakandangan, kembali ke ajaran nenek moyang,” ujar para tetua adat dalam berbagai penuturan.

Redaksi Kosongsatu.id berfoto bersama Abah Ugi Sugriana Rakasiwi, Pemimpin Kasepuhan Gelar Alam. – KosongSatuID/Wijdan

Uga dan Sistem Nilai Leluhur

Kehidupan di Kasepuhan Gelar Alam diatur oleh uga, ketentuan adat yang merangkum pesan para karuhun. Uga mencakup gambaran keadaan, tindakan, dan hal-hal yang akan terjadi. Masyarakat adat memegang teguh Uga Wangsit Siliwangi dan nilai-nilai Sunda, memperlihatkan hubungan yang kuat antara spiritualitas dan keseharian.

Para pemimpin adat meyakini diri sebagai keturunan pancer pangawinan, konsep simbolis yang menyatukan manusia dengan alam semesta. Keyakinan ini menuntun masyarakat untuk menjaga keseimbangan hidup, termasuk dalam praktik pertanian tradisional yang diwariskan turun-temurun.

Struktur Adat: Abah dan Rorokan

Kepemimpinan tertinggi dipegang seorang Abah, bukan sekadar pemimpin, tetapi penjaga spiritual dan simbol hidup kearifan lokal. Abah Ugi Sugriana Rakasiwi memegang amanah itu sejak 2008, melanjutkan peran Abah Anom.

Pada 1990, Abah Anom menerima petunjuk untuk meninggalkan Ciptarasa demi kelestarian masyarakat adat, yang kemudian menjadi awal berdirinya Ciptagelar.

Dalam menjalankan tugas, Abah didampingi oleh tujuh lembaga adat bernama Rorokan. Masing-masing rorokan memiliki peran berbeda dan dianalogikan sebagai kabinet dalam pemerintahan modern. Jabatan ini turun-temurun dan diwariskan kepada garis keturunan pendiri adat.

Dalang Dede, salah satu tokoh penting dan “menteri” dalam struktur adat, menjelaskan peran para rorokan.

“Ada Paraji tugasnya bidan kesehatan. Bengkong itu tukang sunat. Ada Padingaran menjaga padi dari hama. Ada amil atau Rorokan Kapanghuluan urusan zakat, semacam menteri agama. Ada juga Rorokan Pakaya yang mengurus tanah-tanah Abah,” ujarnya.

Ia melanjutkan, ada Rorokan Pertanian, serta Rorokan Pantun yang mengelola seni pantun sakral yang dipentaskan tiga kali setahun, terutama pada Seren Tahun dan Anyaran—ritual setelah masa tanam.

Dalam masyarakat adat, tidak ada hierarki sosial selain kedudukan Abah. Setiap tugas memiliki wewenang dan aturan jelas. Rorokan memiliki akses langsung ke Abah, sedangkan kelompok garapan—unit kerja di bawah rorokan—tidak selalu berhubungan langsung dengan Abah.