Warga menjaga adat sambil memanfaatkan mikrohidro, surya, dan jaringan internet.

KOSONGSATU.ID—Kasepuhan Gelar Alam menunjukkan cara unik menyelaraskan tradisi leluhur dengan kemajuan teknologi. Meski memegang teguh adat istiadat, komunitas adat ini mengoperasikan televisi komunitas Ciga TV, menggunakan wifi desa, dan mengelola energi mandiri. Mereka memilih bergerak maju tanpa meninggalkan jati diri.

Tradisi Dijaga, Teknologi Dikejar

Warga Gelar Alam menyadari perubahan tak bisa dihindarkan. Sikap itu tercermin dalam pesan Dalang Dede, tokoh adat setempat. “Ayo kita kejar teknologi, tapi adatnya jangan sampai hilang,” ujarnya kepada KosongSatu.id, Jumat (5/12/2025). Kalimat pendek itu menjadi prinsip hidup yang mereka pegang: maju, tetapi tetap berpijak pada akar budaya.

Keseimbangan menjadi kunci. Dede menekankan bahwa adat dan teknologi harus berjalan serimbang, seperti perimbangan antara laki-laki dan perempuan dalam falsafah kasepuhan. Keduanya harus saling menguatkan, bukan saling meniadakan.

Energi Mandiri dari Sungai dan Matahari

Kemandirian energi menjadi salah satu ciri menonjol Gelar Alam. Warga membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMh) yang memanfaatkan aliran Sungai Cisono sepanjang 800 meter. Turbin-turbin kecil ini menyuplai listrik desa, termasuk untuk penggiling padi dan peralatan pertanian.

Dede memperkirakan listrik mikrohidro itu telah menerangi sekitar 1.500–1.700 keluarga. “Air sungai selalu ada karena kita selalu menjaga hutan,” kata Dede, yang juga penyiar radio Ciptagelar—nama lama radio komunitas setempat.

Selain mikrohidro, mereka memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Energi matahari digunakan terutama untuk menghidupkan jaringan wifi desa, memastikan warga tetap terhubung dengan informasi tanpa kehilangan kedekatan dengan alam.

Langkah Gelar Alam sejalan dengan rekomendasi Institute for Essential Services Reform (IESR). Lembaga itu mendorong Indonesia mengurangi PLTU batubara dan melipatgandakan bauran energi terbarukan tiga kali lipat pada 2030. Untuk menjaga kenaikan suhu bumi di bawah 1,5 derajat celcius, penggunaan batubara harus berhenti pada 2040.***