Perubahan tersebut membuat sebagian ritual adat mengalami penyempitan ruang. Ada tradisi yang masih dipertahankan, ada yang disesuaikan, dan ada pula yang berhenti dijalankan karena generasi mudanya tidak lagi mengenal fungsi sosialnya.
Meski demikian, menyebut Wetu Telu sebagai tradisi yang “hilang” juga tidak sepenuhnya tepat. Yang berubah sering kali adalah bentuk tampilannya, bukan seluruh nilai yang dikandungnya.
Penghormatan kepada leluhur, gotong royong dalam ritual, tata hubungan dengan tanah, serta penghargaan terhadap sumber air masih dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat adat di Bayan. Nilai-nilai itu kadang hidup tidak lagi di bawah label Wetu Telu, tetapi tetap bekerja dalam cara orang mengatur kampung dan merawat lingkungan.
Yang Bertahan Bukan Hanya Ritual
Wetu Telu tidak perlu diperlakukan sebagai benda purbakala yang hanya menarik saat dipamerkan kepada wisatawan. Ia juga tidak perlu dipaksa menjadi simbol yang beku, seolah masyarakat adat tidak boleh berubah.
Yang lebih penting adalah memahami bahwa tradisi ini menyimpan pengetahuan tentang batas. Batas mengambil dari hutan. Batas mengubah ruang hidup. Batas merasa manusia bisa berdiri sendiri tanpa tanah, air, tumbuhan, dan sejarah orang-orang sebelum mereka.
Masjid Bayan Beleq mungkin tidak sebesar bangunan-bangunan ibadah baru yang tumbuh di berbagai kota. Namun, keberadaannya mengingatkan bahwa perjalanan agama di Nusantara tidak selalu berlangsung dalam garis lurus.
Di bawah atap sederhana dan di antara lanskap kaki Rinjani, Wetu Telu terus mengajarkan satu hal: manusia boleh bergerak maju, tetapi tidak harus memutus hubungan dengan alam yang membuatnya tetap hidup.***




Tinggalkan Balasan