Masjid Bayan Beleq dan Kampung Sade menjadi salah satu jejak paling nyata dari perjumpaan itu. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mencatat masjid kuno tersebut berkaitan erat dengan tradisi Wetu Telu dan menjadi ruang yang menautkan hubungan manusia, alam, serta Tuhan.

Di dalam tradisi Bayan dan Sade, angka tiga tidak berhenti pada makna ritual. Ia juga sering dijelaskan melalui tiga cara makhluk hidup berkembang biak: manganak atau melahirkan, menteluk atau bertelur, dan mentiuk atau tumbuh dari biji atau benih.

Manusia, hewan, dan tumbuhan ditempatkan dalam satu lingkaran kehidupan. Dari sudut pandang ini, alam bukan sekadar sumber bahan pangan atau kayu, melainkan bagian dari tata keseimbangan yang harus dijaga.

Muhammad Harfin Zuhdi, dalam kajiannya tentang Wetu Telu di Bayan, menuliskan bahwa konsep tersebut tidak hanya berkaitan dengan reproduksi makhluk hidup. Ia juga menunjuk pada keyakinan mengenai ketergantungan manusia kepada alam semesta serta kemahakuasaan Tuhan yang memungkinkan kehidupan terus berlanjut.

Di sinilah Wetu Telu menjadi lebih dari kategori keagamaan. Ia bekerja sebagai tata nilai yang menghubungkan kelahiran, tanah, hasil panen, hutan, dan penghormatan kepada generasi terdahulu.

Namun, istilah Wetu Telu sendiri tidak bebas dari perdebatan. Pusat Studi Agama dan Lintas Budaya Universitas Gadjah Mada pada 2025 mengingatkan bahwa label itu dibakukan melalui catatan etnografis Jan van Baal dan kemudian sering dipakai secara terlalu luas untuk menyebut masyarakat adat Bayan.

Karena itu, menyebut seluruh masyarakat Bayan hanya sebagai “penganut Wetu Telu” dapat mengabaikan keragaman identitas mereka. Sebagian lebih memilih dikenali sebagai masyarakat adat Bayan, dengan adat, Islam, dan sejarah lokal yang tidak selalu bisa diringkas oleh satu label.

Hutan Tidak Hanya Dipandang sebagai Kayu

Nilai ekologis Wetu Telu terlihat paling jelas dalam cara masyarakat adat memandang kawasan hutan. Hutan tidak semata dihitung berdasarkan nilai ekonominya, tetapi juga diperlakukan sebagai ruang yang memiliki batas moral.