Namun, sang ulama merespons dengan ketegaran luar biasa. “Betul kedua mata saya telah buta, tapi hati Anda telah terbuka sekarang. Anda mengetahui mana yang hak dan batil, serta berani melakukan perlawanan kepada penjajahan.”
Inspirasi Kemerdekaan di Balik Kebutaan
Kebutaan fisik tidak memadamkan ketajaman visi Syekh Surkati. Sikapnya yang tawaduk dan ilmunya yang luas membuat Bung Karno menaruh hormat mendalam. Presiden pertama RI itu bahkan menyematkan gelar Abal Ruuh al Djalil (Bapak Roh yang Agung) kepada Syekh Surkati.
Kedekatan mereka bukan sekadar hubungan guru dan murid biasa, melainkan pertemuan dua pemikiran besar yang menentang kolonialisme. Budayawan dan sejarawan Ridwan Saidi menilai langkah Bung Karno mendekati Syekh Surkati sangat strategis. “Bung Karno mendekat kepada Ahmad Surkati karena tahu bahwa Surkati adalah simpul jaringan gerakan Pan-Islamisme dunia.”
Selain Soekarno, Syekh Surkati juga menjadi guru spiritual bagi banyak tokoh pergerakan, termasuk para pemuda di Jong Islamieten Bond. Tokoh-tokoh seperti Mohammad Natsir, Mohammad Roem, dan Kasman Singodimedjo kerap menimba ilmu darinya. Ia selalu menekankan bahwa manusia lahir merdeka, dan meraih kebebasan membutuhkan jiwa yang luhur.
Hal senada juga disampaikan oleh pahlawan nasional, Bung Tomo. Ia bersaksi bahwa Al-Irsyad di bawah kepemimpinan Syekh Surkati adalah gerakan yang sejalan dengan napas perjuangan bangsa. “Al-Irsyad ikut membantu dalam membebaskan diri dari penjajahan Belanda hingga bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya,” tegas Bung Tomo.
Menutup Mata Mengawal Bangsa
Kecintaan Syekh Surkati pada tanah air barunya tak pernah luntur. Kepada HM Rasyidi—yang kelak menjadi Menteri Agama RI pertama—ia pernah berujar, “Tiap-tiap dzarrah (atom) dari badan saya telah berganti dengan unsur-unsur Indonesia. Aku akan tetap hidup di Indonesia sampai akhir hayatku.”
Janji itu ia tepati. Pada Kamis, 6 September 1943, pukul 10.00 WIB, sang ulama mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta. Prosesi pemakamannya di Karet berlangsung sangat sederhana tanpa nisan megah. Di antara kerumunan pelayat, tampak Bung Karno berjalan kaki mengantarkan jenazah sang guru ke tempat peristirahatan terakhir.




Tinggalkan Balasan