Bung Karno menyesali pertemuannya dengan Syekh Surkati yang telah buta. Namun, dari sana lahir visi terang kemerdekaan Indonesia.
KOSONGSATU. ID – Sejarah bangsa Indonesia mungkin mencatat narasi berbeda jika Syekh Ahmad Surkati tidak menginjakkan kaki di Batavia pada Maret 1911. Lahir di Sudan pada 1875, ulama hafiz Al-Qur’an ini rela meninggalkan kedudukannya yang mentereng sebagai Mufti di kota suci Makkah. Ia memenuhi undangan Jamiat Khair untuk mendedikasikan hidupnya pada pendidikan Islam di Hindia Belanda.
Banyak sahabat mencegahnya pergi menuju wilayah jajahan yang penuh ancaman. Namun, sang ulama menjawab tegas. “Bagi saya, mati di Jawa dengan berjihad lebih mulia daripada mati di Makkah tanpa jihad.”
Semangat anti-kolonialisme ini kemudian ia wujudkan dengan mendirikan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah pada 6 September 1914. Melalui lembaga ini, Syekh Surkati tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan jiwa kebangsaan, kebebasan berpikir, dan perlawanan terhadap penindasan Belanda.
Titik Temu Sang Proklamator dan Sang Mufti
Benang merah antara Syekh Surkati dan Soekarno mulai terajut melalui perantara A. Hassan, seorang tokoh Persatuan Islam (Persis). Saat menjalani masa pembuangan di Ende, Bung Karno kerap membaca brosur dan buku karya Syekh Surkati yang A. Hassan kirimkan. Ketertarikan intelektual ini mendorong Bung Karno untuk segera menemui sang ulama setibanya dari pengasingan.
Pertemuan bersejarah itu akhirnya terjadi pada 1941. Saat itu, Bung Karno datang bersama Mohammad Hatta dan A. Hassan. Namun, ada kepedihan yang menyelimuti perjumpaan tersebut. Syekh Surkati telah kehilangan kedua indera penglihatannya. Dokter kolonial diduga kuat sengaja membutakan mata sang ulama dengan dalih pengobatan medis.
Ketua Pusat Dokumentasi dan Kajian Al-Irsyad Al-Islamiyah, Abdullah Abubakar Batarfie, menuturkan suasana haru dalam pertemuan tersebut. Bung Karno menyampaikan rasa sesalnya, “Sungguh aku amat menyesali bisa mengunjungi dan bertemu dengan Anda di saat penglihatan As-Syekh Surkati sudah tiada.”



Tinggalkan Balasan