Presiden Soekarno menyimpan sisi spiritual yang mendalam. Pertemuannya dengan Syekh Kadirun Yahya mengupas rahasia ampunan Tuhan.
KOSONGSATU. ID – Di balik podium yang menggelegar, Presiden Soekarno menyimpan sisi spiritual yang mendalam—sebuah ruang sunyi tempat ia terus mencari jawaban atas kegelisahan batinnya.
Pencarian ini akhirnya menuntun sang Proklamator pada sebuah momen krusial yang kelak mengubah perspektifnya tentang ketuhanan. Melalui dialog yang intens, pertemuannya dengan Syekh Kadirun Yahya mengupas rahasia ampunan Tuhan yang selama ini menjadi teka-teki baginya.
Peristiwa ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan sebuah Pertemuan Dua Pemikir Eksakta di Istana Merdeka. Di sana, logika sains dan kedalaman tasawuf bertemu dalam frekuensi yang sama, membuktikan bahwa seorang pemimpin besar pun tetap haus akan bimbingan ruhani yang presisi.
Pertemuan Dua Pemikir Eksakta di Istana Merdeka
Publik lebih banyak mengenal Soekarno sebagai seorang nasionalis sejati dan orator ulung. Namun, di balik kegagahan sang Proklamator, ia menyimpan ketertarikan mendalam pada dunia sufistik. Ketertarikan ini memuncak pada suatu pagi di bulan Juli 1965, bertempat di beranda Istana Merdeka.
Kala itu, Soekarno menyambut rombongan tamu istimewa. Di antara para pejabat dan duta besar, hadir seorang ulama sufi yang juga ahli fisika dan kimia, Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya. Beliau saat itu menjabat sebagai Rektor Universitas Pembangunan Panca Budi, Medan. Soekarno menyambutnya dengan hangat dan menggunakan bahasa Belanda untuk menunjukkan kedekatannya. Ia mengaku telah memendam sebuah pertanyaan krusial selama sepuluh tahun, pertanyaan yang gagal dijawab secara memuaskan oleh ulama maupun intelektual lain.
Kegelisahan Sang Proklamator tentang Dosa dan Kematian
Diskusi bermula dari sebuah pertanyaan filosofis Soekarno mengenai hierarki pengorbanan. Ia membandingkan puluhan tahun pengabdian seorang presiden, jenderal, atau profesor di dunia dengan pengorbanan mutlak yang Tuhan syaratkan untuk masuk surga.
Kegelisahan utama Soekarno berakar pada ketakutannya menghadapi kematian. Ia melihat banyak rekannya berpulang dalam keadaan kurang baik akibat tumpukan dosa masa lalu. Dalam pencariannya, Soekarno menemukan sebuah hadis tentang seorang wanita penuh dosa yang masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan di padang pasir.
Paradoks ini mengganggu pikiran logis Soekarno. Bagaimana mungkin pengorbanan puluhan tahun manusia belum tentu menjamin surga, sementara sedikit kebaikan pada seekor anjing mampu menghapus dosa seumur hidup sang wanita?
Mengilmiahkan Agama: Rumus Matematika Penghapus Dosa
Mendengar pertanyaan tersebut, Syekh Kadirun Yahya tidak lantas memberikan ceramah dogmatis. Sebagai sesama pemikir berlatar belakang eksakta—Soekarno seorang insinyur dan Syekh Kadirun seorang ahli fisika—sang ulama meminta selembar kertas dan merumuskan jawabannya melalui pendekatan matematika.
Syekh Kadirun Yahya menuliskan deret pembagian yang logis dan disetujui sepenuhnya oleh Soekarno:
10/10 = 1
“ya,” kata Presiden
10/100 = 1/10
“ya,” kata Presiden
10/1000 = 1/100
“ya,” kata Presiden
10/10.000 = 1/1000
“ya,” kata Presiden
10 / ∞ (Tak terhingga) = 0
“ya,” kata Presiden
1.000.000… / ∞ = 0
“ya,” kata Presiden
Dosa / ∞ = 0
“ya,” kata Presiden
“Nah…” lanjut Prof. Dr. H. Kadirun Yahya 1x ∞ = ∞
“ya,” kata Presiden
½ x ∞ = ∞
“ya,” kata Presiden
1 zarrah x ∞ = ∞
“ya,” kata Presiden
“… Ini artinya, sang wanita, walaupun hanya 1 zarrah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekalipun, mengkaitkan, menggandengkan gerakannya dengan yang Maha Akbar. Mengikutsertakan Yang Maha Besar dalam gerakan-gerakannya, maka hasil dari gerakkanya itu menghasilkan ibadah yang begitu besar, yang langsung dihadapkan pada dosa-dosanya, yang pada saat itu juga hancur berkeping-keping. Ditorpedo oleh pahala Yang Maha Besar itu . 1 zarrah x ∞ = ∞. Dan, dosa/∞ = 0, Ziedaar hetantwoord, Presiden (itulah dia jawabannya presiden)”, jawab Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya. Bung Karno diam sejenak, “Geweldig (hebat)!” katanya kemudian dan Bung Karno terlihat semakin penasaran.
Masih ada lagi pertanyaan yang ia ajukan, “Bagaimana agar dapat hubungan dengan Tuhan?” Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya pun menjawab,
“Tanpa mendapatkan frekuensi-Nya tak mungkin ada kontak dengan Tuhan. Lihat saja, walaupun 1 mm jaraknya dari sebuah zender radio, kita letakkan radio dengan frekuensi yang tidak sama, maka radio kita itu tidak akan mengeluarkan suara dari zender tersebut. Begitu juga dengan Tuhan, walaupun Tuhan berada lebih dekat dari kedua urat leher kita, kita mungkin ada kontrak jika frekuensi-Nya kita dapat,” jelasnya.
“Bagaimana agar dapat frekuensi-Nya sementara kita adalah manusia kecil yang serba kekurangan?’ tanya Presiden kemudian. “Melalui isi dada Rasulullah”, jawab Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya.
“Dalam Hadits Qudsi disebutkan yang artinya ‘Bahwasanya Al-Qur’an ini satu ujungnya di tangan Allah dan satu lagi di tangan kamu, maka peganglah kuat-kuat akan dia”, (Abi Syuraihil Khuza’ayya radhiyAllahu anhu)’, lanjutnya. Kemudian disambung dengan penjelasan, “Begitu juga dalam Q.S. Al Hijr/15: 29 – maka setelah aku sempurnakan dia dan aku tiupkan di dalamnya sebagian rohku, rebahkan dirimu bersujud kepada-Nya.”
“Nur Ilahi yang terbit dari Allah sendiri adalah tali yang nyata antara Allah dengan Rasulullah. Ujung Nur Ilahi itu ada dalam dada Rasulullah. Ujungnya itulah yang kita hubungi, maka jelas kita akan dapat frekuensi dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, kata Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya.
Profesor melanjutkan,“ Lihat saja sunnatulah, hanya cahaya matahari saja yang satu-satunya sampai pada matahari. Tak ada yang sampai pada matahari melainkan cahayanya sendiri. Juga gas-gas yang saringan-saringanya tak ada yang sampai matahari, walaupun edelgassen, seperti Xenon, Crypton, Argon, Helium, Hydrogen dan lain-lain. Semua vacuum!”
“Yang sampai pada matahari hanya cahayanya, karena ia terbit darinya dan tidak bercerai siang dan malam dengannya. Kalaulah matahari umurnya 1 (satu) juta tahun, maka cahayanyapun akan berumur sejuta tahun pula. Kalau matahari hilang maka cahayanya pun akan hilang.”
“Matahari hanya dapat dilihat melalui cahayanya, tanpa cahaya mataharipun tak dapat dilihat. Namun cahaya matahari, bukanlah matahari, cahaya matahari adalah getaran transversal dan longitudinal dari matahari sendiri (Huygens),” jelas Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya.
Profesor menyimpulkan, “Dan Rasulullah adalah satu-satuya manusia akhir zaman yang mendapat Nur Ilahi dalam dadanya. Mutlak jika hendak mendapatkan frekuensi Allah, ujung dari Nur itu yang berada dalam dada Rasulullah harus dihubungi.”
“Bagaimana cara menghubungkannya, sementara Rasulullah sudah wafat sekian Lama?” tanya Presiden. Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya menjawab, “Memperbanyak sholawat atas Nabi tentu akan mendapatkan frekuensi Beliau yang otomatis mendapat frekuensi Allah Subhanahu Wa ta’ala. Tidak dikabulkan Do’a seseorang tanpa shalawat atas Rasul-Ku. Do’anya tergantung di awang-awang. (H.R. Abu Dawud dan An-Nasa’i). Jika diterjemahkan secara akademis, mungkin kurang lebih tidak engkau mendapat frekuensi-Ku tanpa lebih dahulu mendapatkan frekuensi Rasul-Ku.”
Mencari “Frekuensi” Tuhan Melalui Shalawat
Tidak berhenti di situ, Soekarno mengejar cara konkret agar manusia serba kekurangan bisa terhubung dengan Tuhan. Syekh Kadirun Yahya menggunakan analogi ilmu fisika modern, yakni gelombang radio.
Menurutnya, manusia tidak akan pernah mendengar siaran radio jika tidak menyamakan frekuensinya, meskipun jarak radio itu hanya satu milimeter. Begitu pula dengan Tuhan; meski Ia lebih dekat dari urat leher, kontak tidak akan terjadi tanpa frekuensi yang tepat.
Untuk mendapatkan frekuensi tersebut, manusia harus terhubung dengan Nur Ilahi yang bermuara di dalam dada Rasulullah SAW. Syekh Kadirun menganalogikannya dengan cahaya matahari—satu-satunya hal yang bisa mencapai matahari hanyalah cahayanya sendiri, mengalahkan unsur gas apa pun.
Memperbanyak shalawat, tegas Syekh Kadirun, adalah mekanisme mutlak untuk menyamakan frekuensi batin manusia dengan Rasulullah, yang otomatis terhubung dengan Tuhan. Penjelasan ini membuat Soekarno berdiri kagum, merangkul sang ulama, dan memohon doa agar ia kelak bisa wafat dengan tersenyum.
Syekh Kadirun Yahya: Ulama Sufi dengan Pendekatan Teknologi
Sosok Syekh Kadirun Yahya (1917-2001) memang fenomenal. Sebagai Mursyid Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah, ia berhasil menerjemahkan ajaran tasawuf ke dalam bahasa sains dan teknologi.
Mengutip analisis pakar sejarah Islam dari Universitas Pembangunan Panca Budi, “Syeikh Kadirun Yahya melakukan penyebaran Islam dengan cara yang berbeda, memadukan ilmu eksakta yang riil dan logis dengan tasawuf, membuktikan bahwa ayat suci menyimpan tenaga tak terhingga melampaui energi nuklir.”
Sejarah mencatat berbagai karomah yang menyertainya sering kali bersentuhan dengan peristiwa besar. Beliau pernah meredakan amukan letusan Gunung Galunggung pada 1982 menggunakan batu sijjil yang dilemparkan dari helikopter.
Kehebatannya juga diakui secara internasional; mulai dari menumpas gerombolan komunis di hutan Malaysia atas permintaan Menteri Pertahanan Datuk Hamzah Abu Sammah, hingga dimintai bantuan air tawajuh oleh Duta Besar Irak selama kecamuk perang Irak-Iran.
Pertemuan di beranda Istana Merdeka tersebut bukan sekadar obrolan santai, melainkan dialog peradaban antara kekuasaan duniawi dan kedalaman spiritual. Syekh Kadirun Yahya berhasil memberikan kerangka keilmuan modern pada ajaran Islam di hadapan seorang pemimpin besar. Kisah ini menegaskan bahwa Soekarno adalah manusia pemikir yang terus mencari jalan pulang menuju Tuhannya, melalui logika sains yang menjembatani kebesaran Sang Pencipta.***
Daftar Pustaka
- Lubis, S. (2018). Tharekat Naqsabandiyah Kholidiyah Saidi Syekh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, MA di Universitas Pembangunan Panca Budi Medan. Almufida: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 3(1).
- Biografi Prof. Dr. H. Kadirun Yahya (Sumber data tertulis historis).




Tinggalkan Balasan