“Matahari hanya dapat dilihat melalui cahayanya, tanpa cahaya mataharipun tak dapat dilihat. Namun cahaya matahari, bukanlah matahari, cahaya matahari adalah getaran transversal dan longitudinal dari matahari sendiri (Huygens),” jelas Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya.
Profesor menyimpulkan, “Dan Rasulullah adalah satu-satuya manusia akhir zaman yang mendapat Nur Ilahi dalam dadanya. Mutlak jika hendak mendapatkan frekuensi Allah, ujung dari Nur itu yang berada dalam dada Rasulullah harus dihubungi.”
“Bagaimana cara menghubungkannya, sementara Rasulullah sudah wafat sekian Lama?” tanya Presiden. Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya menjawab, “Memperbanyak sholawat atas Nabi tentu akan mendapatkan frekuensi Beliau yang otomatis mendapat frekuensi Allah Subhanahu Wa ta’ala. Tidak dikabulkan Do’a seseorang tanpa shalawat atas Rasul-Ku. Do’anya tergantung di awang-awang. (H.R. Abu Dawud dan An-Nasa’i). Jika diterjemahkan secara akademis, mungkin kurang lebih tidak engkau mendapat frekuensi-Ku tanpa lebih dahulu mendapatkan frekuensi Rasul-Ku.”
Mencari “Frekuensi” Tuhan Melalui Shalawat
Tidak berhenti di situ, Soekarno mengejar cara konkret agar manusia serba kekurangan bisa terhubung dengan Tuhan. Syekh Kadirun Yahya menggunakan analogi ilmu fisika modern, yakni gelombang radio.
Menurutnya, manusia tidak akan pernah mendengar siaran radio jika tidak menyamakan frekuensinya, meskipun jarak radio itu hanya satu milimeter. Begitu pula dengan Tuhan; meski Ia lebih dekat dari urat leher, kontak tidak akan terjadi tanpa frekuensi yang tepat.
Untuk mendapatkan frekuensi tersebut, manusia harus terhubung dengan Nur Ilahi yang bermuara di dalam dada Rasulullah SAW. Syekh Kadirun menganalogikannya dengan cahaya matahari—satu-satunya hal yang bisa mencapai matahari hanyalah cahayanya sendiri, mengalahkan unsur gas apa pun.
Memperbanyak shalawat, tegas Syekh Kadirun, adalah mekanisme mutlak untuk menyamakan frekuensi batin manusia dengan Rasulullah, yang otomatis terhubung dengan Tuhan. Penjelasan ini membuat Soekarno berdiri kagum, merangkul sang ulama, dan memohon doa agar ia kelak bisa wafat dengan tersenyum.
Syekh Kadirun Yahya: Ulama Sufi dengan Pendekatan Teknologi
Sosok Syekh Kadirun Yahya (1917-2001) memang fenomenal. Sebagai Mursyid Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah, ia berhasil menerjemahkan ajaran tasawuf ke dalam bahasa sains dan teknologi.




Tinggalkan Balasan