Kegelisahan utama Soekarno berakar pada ketakutannya menghadapi kematian. Ia melihat banyak rekannya berpulang dalam keadaan kurang baik akibat tumpukan dosa masa lalu. Dalam pencariannya, Soekarno menemukan sebuah hadis tentang seorang wanita penuh dosa yang masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing yang kehausan di padang pasir.

Paradoks ini mengganggu pikiran logis Soekarno. Bagaimana mungkin pengorbanan puluhan tahun manusia belum tentu menjamin surga, sementara sedikit kebaikan pada seekor anjing mampu menghapus dosa seumur hidup sang wanita?

Mengilmiahkan Agama: Rumus Matematika Penghapus Dosa

Mendengar pertanyaan tersebut, Syekh Kadirun Yahya tidak lantas memberikan ceramah dogmatis. Sebagai sesama pemikir berlatar belakang eksakta—Soekarno seorang insinyur dan Syekh Kadirun seorang ahli fisika—sang ulama meminta selembar kertas dan merumuskan jawabannya melalui pendekatan matematika.

Syekh Kadirun Yahya menuliskan deret pembagian yang logis dan disetujui sepenuhnya oleh Soekarno:

10/10 = 1

“ya,” kata Presiden

10/100 = 1/10

“ya,” kata Presiden

10/1000 = 1/100

“ya,” kata Presiden

10/10.000 = 1/1000

“ya,” kata Presiden

10 / ∞ (Tak terhingga) = 0

“ya,” kata Presiden

1.000.000… / ∞  = 0

“ya,” kata Presiden

Dosa / ∞  = 0

“ya,” kata Presiden

“Nah…” lanjut Prof. Dr. H. Kadirun Yahya 1x ∞  = 

“ya,” kata Presiden

½ x ∞  = 

“ya,” kata Presiden

1 zarrah x ∞  = 

“ya,” kata Presiden

“… Ini artinya, sang wanita, walaupun hanya 1 zarrah jasanya, bahkan terhadap seekor anjing sekalipun, mengkaitkan, menggandengkan gerakannya dengan yang Maha Akbar. Mengikutsertakan Yang Maha Besar dalam gerakan-gerakannya, maka hasil dari gerakkanya itu menghasilkan ibadah yang begitu besar, yang langsung dihadapkan pada dosa-dosanya, yang pada saat itu juga hancur berkeping-keping. Ditorpedo oleh pahala Yang Maha Besar itu . 1 zarrah x  = ∞. Dan, dosa/∞ = 0, Ziedaar hetantwoord, Presiden (itulah dia jawabannya presiden)”, jawab Prof. Dr. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya. Bung Karno diam sejenak, “Geweldig (hebat)!” katanya kemudian dan Bung Karno terlihat semakin penasaran.