Di tengah krisis iklim dan bencana ekologis yang kian berulang, tasawuf menemukan kembali maknanya—bukan sebagai jalan senyap yang menjauh dari dunia, melainkan sebagai etika spiritual yang menuntun manusia merawat bumi.


KOSONGSATU.ID—Selama berabad-abad, tasawuf kerap dipahami sebatas laku batin: membersihkan jiwa (tazkiyat al-nafs), memperbanyak zikir, dan menepi dari hiruk-pikuk dunia. Padahal, di balik lapisan asketisme itu, tradisi sufi menyimpan etika kosmik yang menempatkan alam sebagai bagian tak terpisahkan dari penghambaan kepada Tuhan.

Krisis iklim global, deforestasi, dan pencemaran lingkungan hari ini justru membuka kembali ruang tafsir itu—bahwa tasawuf tidak pernah netral terhadap kerusakan bumi.

Kerusakan Batin, Kerusakan Alam

Bagi Abu Hamid al-Ghazali, kerusakan lahiriah selalu berakar pada kerusakan batiniah. Nafsu yang tidak dididik, tulisnya, akan menyamar sebagai kebutuhan; keserakahan mengenakan jubah rasionalitas. Dalam kerangka ini, eksploitasi alam bukan sekadar persoalan kebijakan atau teknologi, melainkan problem etika jiwa.

Al-Ghazali bahkan mengajarkan bahwa memotong ranting pohon dapat dihukumi sebagai bentuk kekafiran terhadap nikmat Allah—sebuah pernyataan keras yang menegaskan relasi moral antara manusia dan alam. Jika demikian, maka penebangan hutan, pencemaran sungai, dan polusi udara bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan krisis spiritual yang sistemik. Alam direduksi menjadi komoditas; keuntungan dipisahkan dari keberkahan.

Eko-Sufisme: Dari Batin ke Praksis

Dalam tradisi tasawuf, jalan menuju kedekatan dengan Tuhan dirumuskan melalui tiga tahap: takhalli, tahalli, dan tajalli. Kerangka ini kemudian dibaca ulang sebagai metode etika ekologis—sering disebut eko-sufisme.

Takhalli menandai proses pelepasan sifat-sifat merusak melalui apa yang dapat disebut sebagai “taubat ekologis”. Individu menyadari bahwa merusak lingkungan adalah kejahatan, baik material maupun spiritual. Kesadaran ini melahirkan tindakan-tindakan sederhana namun bermakna: tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi plastik sekali pakai, hingga menahan diri dari konsumsi berlebihan.

Tahap berikutnya, tahalli, adalah rekonstruksi batin—memasukkan nilai-nilai pemeliharaan alam melalui syukur ekologis. Sumber daya digunakan secara hemat, efisien, dan secukupnya. Di sini, kesalehan diukur bukan dari banyaknya ritual, melainkan dari kemampuan menahan diri.

Puncaknya adalah tajalli: manifestasi nilai-nilai itu dalam tindakan kolektif. Penanaman pohon, pembangunan tandon air, hingga pengembangan teknologi pemulihan lingkungan dipahami sebagai laku spiritual—zikir yang menjelma kebijakan dan aksi.

Alam yang Hidup dan Berbicara

Tasawuf juga menolak pandangan modern yang memosisikan alam sebagai benda mati. Ibn Arabi memandang semesta sebagai jejaring penampakan Ilahi—breath of the Compassionate. Setiap makhluk memiliki martabat ontologis. Merusak hutan berarti merusak simpul relasi dalam jejaring itu: pelanggaran etis sekaligus spiritual.

Pandangan serupa bergema dalam tradisi Ikhwan al-Shafa, yang menggambarkan alam sebagai “saudara kembar” manusia. Dan Jalaluddin Rumi mengingatkan: alam berbicara kepada hati yang mau mendengar. Ketika manusia tuli terhadap suara alam, sesungguhnya ia tengah kehilangan kepekaan terhadap dirinya sendiri.

Krisis Lingkungan, Krisis Spiritual

Bagi Seyyed Hossein Nasr, krisis lingkungan modern berakar pada krisis spiritual. Manusia terjebak pada dimensi material, memutus harmoni dengan Tuhan dan alam. Ilmu pengetahuan dan teknologi—yang semestinya menopang kehidupan—berubah menjadi instrumen eksploitasi.

Nasr membaca alam sebagai ayat kauniyyah, tanda-tanda Tuhan yang hidup. Dalam metaforanya, Tuhan ibarat satu wajah dengan seribu cermin; semesta memantulkan keesaan itu dalam keragaman. Manusia, sebagai khalifah, bertugas menjaga wadah pantulan tersebut. Merusak alam, dalam logika ini, berarti merusak relasi dengan Yang Ilahi.

Syukur yang Membumi

Di Indonesia, tafsir tasawuf yang membumi itu menemukan ekspresinya dalam praktik-praktik tarekat. Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Sykeh Muchammad Mukhtarullahil Mujtaba Mu’thi, mengajarkan konsep “tiga titik syukur”. Kata syukur, katanya, tersusun dari tiga titik pada huruf syin; hilang satu titik saja, maknanya berubah menjadi sakaro—mabuk.

Syukur, dalam pengertian ini, tidak berhenti pada lisan, tetapi menjelma pelayanan keimanan, kemanusiaan, dan kealaman. Prinsip itu diterjemahkan dalam ajaran AL BIRRU: Asri, Lestari, Bersih, Indah, Rapi, Rajin, Utama. Di pesantren Shiddiqiyyah, syukur diwujudkan lewat kerja-kerja konkret: bersih-bersih lingkungan, penanaman pohon mangga, pisang, uwi, hingga penangkaran kupu-kupu dan ikan.

Ihsan yang Meluas

Konsep ihsan—beribadah seakan-akan melihat Tuhan—dalam tasawuf kontemporer tak lagi cukup diterapkan dalam relasi vertikal. Ia menuntut kepekaan ekologis. Kesalehan hari ini diukur dari sejauh mana seseorang menjaga harmoni dengan alam, bukan hanya dengan sesama manusia.

Pemaknaan ini diperkuat oleh Bambang Irawan, Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang memperkenalkan gagasan Green Sufism. Menurutnya, mencintai alam adalah bagian dari mencintai Tuhan. Tasawuf, kata Bambang, bukan pelarian bagi mereka yang enggan menghadapi realitas sosial, apalagi legitimasi religius untuk menghindari tanggung jawab.

“Apa artinya mahabbah kepada Sang Khalik jika cinta kepada ciptaan-Nya absen?” ujarnya suatu kali. Tasawuf yang hanya berhenti pada kesalehan individual, menurut Bambang, berisiko melahirkan “berhala-berhala baru” dalam spiritualitas.

Lima Pilar Tasawuf Hijau

Green Sufism, dalam kerangka Bambang, berdiri di atas lima pilar. Pertama, tazkiyat al-nafs ekologis—pendidikan batin untuk menahan nafsu eksploitasi. Kedua, tawadhu kosmik dalam tata kelola: kebijakan kehutanan yang rendah hati terhadap daya dukung alam dan menghormati hak masyarakat adat. Ketiga, ibadah ekologis—reboisasi sebagai zikir kolektif. Keempat, penguatan kearifan lokal spiritual yang menjaga hutan selama berabad-abad. Kelima, ekonomi berjiwa sufistik yang menimbang keberkahan, bukan sekadar laba jangka pendek.

Di tengah dunia yang memuja percepatan dan akumulasi, tasawuf menawarkan jeda—bukan untuk lari, melainkan untuk merawat. Ia mengingatkan bahwa bumi bukan warisan, melainkan titipan. Dan bahwa keselamatan spiritual manusia, pada akhirnya, terikat pada kesediaannya menjaga rumah bersama: semesta.***