Sunan Drajat mewariskan ajaran sosial, ekonomi, dan cinta lingkungan di pesisir Lamongan.


KOSONGSATU.ID — Sunan Drajat kerap dikenang sebagai wali yang menempatkan kepedulian sosial dan kemandirian ekonomi sebagai inti dakwah. Namun, di balik reputasi sebagai wali dermawan, ia juga meninggalkan ajaran mendalam tentang relasi manusia dengan alam.

Ajaran itu tidak hadir sebagai teori, melainkan praktik hidup. Dari pengelolaan pesisir, penghormatan terhadap satwa, hingga pesan sastra Jawa, Sunan Drajat membangun etika lingkungan yang berakar pada pengendalian diri dan tanggung jawab antargenerasi.

Mengubah Pesisir Lamongan Menjadi Wilayah Berdaya

Wilayah pesisir Lamongan yang kini dikenal sebagai Desa Drajat, Jawa Timur, pada mulanya merupakan kawasan panas dan gersang. Kehidupan warga bergantung hampir sepenuhnya pada sektor perikanan, dengan tingkat kesejahteraan yang terbatas.

Melalui pendekatan sosial dan ekonomi berbasis komunitas, Sunan Drajat mendorong diversifikasi penghidupan dan pengelolaan wilayah secara berkelanjutan. Keberhasilan itu membuatnya memperoleh kewenangan otonom selama 36 tahun dari Raden Patah, Sultan Demak, sekitar 1520 M.

Atas jasanya mengentaskan kemiskinan sekaligus menyebarkan Islam, ia mendapat gelar Sunan Mayang Madu. Mayang dimaknai sebagai pertumbuhan, dan madu sebagai manis—sebuah metafora atas kesejahteraan yang tumbuh bersama nilai spiritual.

Menyayangi Satwa sebagai Laku Spiritual

Sunan Drajat juga dikenal sebagai penyayang binatang. Yahya, juru kunci makam Sunan Drajat, menuturkan bahwa wali bernama asli Raden Qosim itu kerap memberi makan burung-burung yang kelaparan.

“Biasanya Kanjeng Sunan Drajat berdoa agar burung-burung menghampirinya. Setelah diberi makan, burung-burung itu terbang kembali,” ujar Yahya dalam sebuah kesempatan.

Kisah ini menegaskan bahwa kasih sayang terhadap makhluk hidup dipraktikkan sebagai bagian dari ibadah, bukan sekadar simbol moral.

Tembang Pangkur dan Ajakan Merawat Alam

Sunan Drajat menciptakan tembang PangkurPangudi Isine Kuran—yang mengajarkan pengendalian hawa nafsu dan tanggung jawab manusia terhadap kehidupan. Dalam tradisi Jawa, Pangkur menggambarkan usaha menyingkirkan angkara murka yang merusak harmoni diri dan alam.

Menurut buku Macapat Modern dalam Sastra Jawa (2003), watak Pangkur bersifat tegas, bersemangat, dan penuh keyakinan. Ia kerap digunakan sebagai pitutur yang disampaikan dengan kasih sayang, termasuk untuk menanamkan cinta pada alam semesta.

Salah satu bait yang dikutip dari Serat Wulangreh menegaskan urgensi menjaga lingkungan demi kelestarian air dan kehidupan: manusia diminta menanam dan merawat tumbuhan sebagai bagian dari tanggung jawab moralnya.

Mengendalikan Nafsu, Menjaga Kehidupan

Dalam ajaran Pepali Pitu, Sunan Drajat menekankan meper hardaning pancadriya—berjihad melawan hawa nafsu. Baginya, keserakahan dan kerakusan bukan hanya menjauhkan manusia dari Tuhan, tetapi juga merusak keseimbangan alam.

Relasi manusia dengan alam, menurut Sunan Drajat, bersifat harmonis dan saling membutuhkan. Syukur dan pengendalian diri menjadi kunci agar alam tetap lestari dan memberi manfaat lintas generasi.

Air sebagai Sumber Kehidupan Bersama

Kesadaran ekologis itu tampak dalam perhatian Sunan Drajat terhadap air. Ia membangun sumur-sumur publik, termasuk Sumur Lengangsa berlubang sembilan, untuk memenuhi kebutuhan warga.